Pengikut

uNqxTDPAMkB91mAzsfOzI1Os9mxYnxiovtueTU23

PERLAWANAN DIPONEGORO DI MOJOKERTO


Peran.net - Berangkat dari kerjaan memulung sampah yang sudah hampir dilupakan orang, saya semakin yakin bahwa apa yang sudah terkumpul ternyata memiliki kesamaan. Remah-remah informasi teraduk nyaris sempurna hingga susah untuk memisahkan antar bagiannya. Remah-remah sampah aku punguti itu adalah sepenggal kisah masa lalu tentang desa.

Perkembangan desa mengikuti proses evolutif masa yang berjalan. Peralihan jaman dengan segala dinamika yang melingkupinya secara langsung atau tidak telah mempengaruhi pertumbuhan masyarakat desa. Ada fase akselerasi pada sebuah wilayah yang dipicu satu peristiwa dari daerah lainnya. Jika menggunakan teori bencana alam saat kondisi berubah maka akan ada perubahan kontur pada alam tersebut. Contohnya, banjir yang mampu memindah material dari satu tempat ke tempat lainnya.

Percepatan perkembangan desa di wilayah Mojokerto ternyata terjadi setelah berakhirnya perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Perang besar itu melanda pusat kekuasaan kerjaan di Jawa. sehingga terjadilah perlawanan diponegoro di Mojokerto
Erupsi terjadi di Jagjakarta yang diakibatkan adanya kultur yang dipaksakan masuk menjadi kaidah baru di magma kraton Jogjakarta. Material kultur budaya barat itu telah menyumbat katub tradisi yang sekian ratus tahun mengalir mengikuti detak jantung seluruh tatanan kehidupan di Jawa. Meledaklah perang Jawa itu pada tahun 1825 yang ditandai dengan bentrokan di Tegalrejo.


Diponegoro yang merupakan priyayi agung segera bertukar busana. Pakaian keraton telah ditanggalkannya dan busana ulama dengan sorban di kepala sudah dikenakannya. Sebilah keris yang biasanya menempel dibagian belakang, di punggung, kini berganti posisi. Senjata pria Jawa itu terselip di pinggang dekat dengan pusar. Gagangnya mengarah ke depan tanda telah siap untuk dihunuskan. Di susul segerombolan santri dan kyai berbaris siap dibelakang Diponegoro mengikuti setiap langkah jalan yang tuju kini segerombolan membuat istilah nama Erucokro, Sang Imam Mahdi tanah Jawa. Atau sebutan lainnya Ratu Adil yang akan membawa kemakmuran bagi rakyat dan kawulanya.

Jogjakarta terbakar api perang. Tentara kerjaan mengalami kekalahan dari laskar kaum santri yang bertempur tanpa takut mati. Pasukan Belanda kewalahan dan terpaksa berlindung dibalik tembok bentengnya. Api itu menjalar keseluruh wilayah Jawa bagian tengah dan kawasan bang wetan. Rakyat yang merasakan penindasan penguasa memiliki harapan baru dari sosok Diponegoro. Pergaulannya dengan kalangan santri dan rakyat jelata menjelma menjadi dukungan padanya.

Para bangsawan bimbang, kemenangan laskar santri Diponegoro membuat mereka kesulitan menerka kemana angin jaman berhembus. Jika tetap berdiri dipihak Belanda, mereka kawatir akan didepak dari jabatannya jika kelak Diponegoro menang dan menjadi penguasa baru. Beralih haluan dan memihak Diponegoro, masih belum ada jaminan bahwa Belanda akan kalah dan angkat kaki. Sekarang realitas berbicara, kini Diponegoro unggul dan memegang kendali. Raja Jogjakarta, Hamengkubuwono V dan Patih Danurejo mengatur siasat agar jabatannya selamat. Sunan Pakubuwono risau kemana harus berpijak, ambivalensi terjadi. Mangkunegaran bulat memihak Belanda untuk mengambil keuntungan jika nanti Diponegoro berhasil dikalahkan. Legiun Mangkunegaran adalah kesatuan tempur yang dibentuk oleh penjajah, terlatih baik layaknnya satuan tempur eropa.

Bertambahnya dukungan dari para bangsawan kemudian menjadi bumerang. Tekad berperang yang berlandaskan semangat jihad untuk menegakkan kalimat Allah di tanah Jawa mulai sayup terdengar. Hiruk pikuk bangsawan yang baru datang sibuk memperbincangkan kekuasaan. Di batok kepalanya hanya ada keinginan membagi jabatan. Semangat perang menurun, medan laga terus meluas dan lawan, penjajah Belanda mulai menemukan cara menjinakkan perlawanan Sang Ksatria Jawa. Kekurangan bahan makanan dan wabah kolera menewaskan banyak rakyat yang selama ini menjadi sandaran para pelawan. Bala bantuan Belanda berdatangan dari orang-orang Madura yang tidak sadar telah dimanfaatkan oleh kaum kafir. Pertempuran terjadi antara para santri pengikut Diponegoro melawan sesamanya yang berpihak pada Belanda.

Tahun 1827 tiupan angin berbalik arah, Diponegoro mulai kalah. Para santri kecewa karena niat sucinya dikotori oleh keinginan berkuasa dari para ningrat yang gila ingin menjabat. Kyai Maja menyerah, Sentot menyerah, Mangkubumi menyerah dan para bangsawan segera berputar arah. Diponegoro dan para santri pengikutnya mencoba tetap bertahan diantara kepungan yang kian menjepit. Diponegoro dibujuk untuk berunding dan itu sebuah jebakan. Tahun 1930 dia ditangkap dan meninggal tahun 1854 di tanah pembuangan, Makasar.

Santri Diponegoro selanjutnya diburu untuk ditangkap dan dipenjarakan. Bukan hanya Belanda yang ingin mencari, bahkan sesama orang Jawa juga ikut berusaha meringkus. Mereka ingin mencari muka pada Belanda sang pemenang perang. Tiada jalan lain untuk selamat kecuali lari, meninggalkan rumah dan mencari tempat baru yang aman. Jawa Tengah tidak lagi ada ruang lega untuk bernafas. Jawa Timur, bang wetan kelihatannya bagus untuk meneruskan perjuangan.Sebelum berpisah, para pengikut Diponegoro, kaum santri yang telah menemani Diponegoro berjanji untuk tidak kalah lagi. Mereka harus menaman benih perlawanan di tanah barunya nanti.
Untuk bisa tetap saling mengenali, ditentukan sebuah sandi. Sandi pengikut Diponegoro untuk saling mengenali adalah tanaman sawo kecik di halaman.
Salah satu tanah pelarian yang banyak dituju adalah Mojokerto. Semangat perlawanan Diponegoro di Mojokerto tumbuh subur dikawasan tepi Kali Brantas itu. Langgar, masjid dan pesantren lantas bermunculan dengan dipimpin oleh pelarian laskar Diponegoro. Hutan dibabat dan pemukiman baru bermunculan dan penduduk kian besar akibat adanya eksodus tersebut.

Kenapa Mojokerto menjadi pilihan?

Mereka sadar bahwa dirinya terus diburu dimanapun berada. Belanda memang mengancam jiwa, tetapi sesungguhnya yang paling berbahaya adalah pemerintah pribumi yang mentalnya menjiwai penjajah sebab menjadi budaknya penjajah. Oleh karena tempat yang paling aman adalah daerah yang bupatinya tidak berpihak pada penjajah. Kala itu, bupati Mojokerto, sebelumnya bernama Japan, dijabat oleh Adipati Arya Prawirodirdjo. Dia seorang simpatisan perjuangan Diponegoro. Salah seorang adiknya, Tumenggung Singkalan, meninggal dalam pertempuran saat ikut sebagai prajurit Diponegoro. Arya Prawirodirdjo melindungi para pelarian itu dan memberi keleluasaan dengan cara tidak mellaporkannya pada Gubermen Belanda. Namun tindakannya tercium juga dan akibatnya dia dicopot dari jabatannya pada tahun 1840, sepuluh tahun setelah berakhirnya perang Jawa. Waktu sepuluh tahun itulah masa dimana pertumbuhan desa-desa di Mojokerto mengalami percepatan. Pelopornya adalah para santri pelarian tersebut.

Kelak perlawanan diponegoro di Mojokerto mereka lakukan dalam bentuk protes lokal seperti yang terjadi pada Peristiwa Kasan Mukmin di Gedangan Sidoarjo yang dikaitkan dengan keberadaan pesantren Tirim Mojokerto. Perlawanan serupa juga pernah terjadi di Brangakal oleh Pak Jebrak yang disokong oleh pesantren Karangsari.

Sawo kecik tumbuh diantara pohon Maja, yang menjadi cikal bakal nama Mojokerto.
seperti Bukti yang ada di sekitar Alon-Alon Mojokerto, terdapat berjajaran pohon maja dan sebuah kereta yang sebagai simbol SEJARAH MOJOKERTO

(Sumber ; www.facebook.com/saifulaminghofur)
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar