Pengikut

uNqxTDPAMkB91mAzsfOzI1Os9mxYnxiovtueTU23

Kesederhanaan Kiai Arief Beratkulon

KH. Arif Hasan
KH. Arif Hasan
Peran.net - SEDERHANA Dan BERSAHAJA, kata yang masih melekat dalam mengenag beliau Kiai Arief. Sejak menikah dengan Mbah Nyai Thowilah, tak ada yang berubah dalam diri Kiai Arief, kecuali lambat laun ia tampil menjadi sosok yang bersahaja namun semakin berwibawa. Pasangan suami-istri itu hidup dalam kesederhanaan, jauh dari kesan mewah. Sehari-hari mereka makan dengan kondisi yang begitu lumrah. Tidak neko-neko. Tak jarang, Mbah Nyai Thowilah menghidangkan nasi dengan lauk ikan klothok yang dibakar hingga hangus dan dibenamkan dalam genangan sambal di atas cobek. Jika sudah demikian, selera makan Kiai Arief akan meningkat. Ia pun makan dengan nikmat, hingga raut mukanya basah oleh keringat.
 

Dalam hal berpakaian juga segendang sepenarian. Jangan dibayangkan, sebagai seorang kiai besar, pakaian Kiai Arief bagus-bagus dengan bandrol harga yang mahal. Kiai Arief jauh dari kesan seperti itu. Pakaian Kiai Arief biasa-biasa saja, sederhana seperti halnya pakaian umat pada umumnya. Jikapun pakaian itu sobek, tidak serta merta beli pakaian baru. Tapi, sobekan itu dirajut kembali dengan sangat lembut dan penuh perasaan oleh sang istri tercinta, Mbah Nyai Thowilah.

Bahkan, sekali pun Kiai Arief tak pernah minta dibelikan pakaian. Hanya saja, Mbah Nyai Thowilah dengan penuh pengertian menawari untuk membelikan pakaian. Itu pun dengan pertimbangan bila ada kelebihan rezeki, baru pakaian bisa terbeli. Kesederhanaan dan kebersahajaan ini senantiasa terjaga, meski pelan-pelan kharisma Kiai Arief terus menanjak.

Sembari rutin mengaji di pesantren dan di hadapan masyarakat, Kiai Arief tak mengabaikan tanggung jawab selaku kepala keluarga, yakni memberi nafkah. Pernah ia membuka toko yang semula dijaga sendiri oleh Mbah Nyai Thowilah. Ide dasar membuka toko ini terinspirasi oleh Kiai Hasan yang memang seorang pedagang yang mumpuni.

Di toko ini dijual aneka kebutuhan dapur yang dikulak dari Mojokerto, mengayuh sepeda onthel dengan membawa ronjot—sejenis wadah barang dari anyaman bambu yang menjuntai di dua sisi berbentuk kubus sepanjang kira-kira setengah meter dan ditaruh di atas boncengan sepeda—di belakangnya. Setelah sekian lama kulakan aneka kebutuhan dapur itu dikerjakan sendiri, ketika kesibukan Kiai Arief kian padat, ditambah penyakit kencing manis mulai menyerang, akhirnya kegiatan kulakan dipasrahkan kepada beberapa santri. Beberapa santri yang sempat mendapat mandat kulakan semisal Bahri (asal Bangperut), Kusnawi, dan Bahri (kerap dipanggil Urip, asal Surabaya). Dengan menitahkan kulakan, sebetulnya Kiai Arief tengah melakukan proses pembelajaran kepada mereka. Para santri itu tidak sekadar diajari mengaji, tetapi sekaligus berguru kepada kenyataan (baca: ngaji lakon).

Untuk menambah penghasilan, Urip kerapkali diminta membawa buah belimbing yang tumbuh di samping rumah Kiai Arief untuk dijual ke Mojokerto. Pohon blimbing itu sebenarnya bukan Kiai Arief yang menanam, akan tetapi pendahulunya. Ternyata, buah blimbing itu laku keras, sebab buahnya terasa manis dan berbeda dengan rasa buah blimbing kebanyakan. Lumayan!

Selain memanfaatkan buah blimbing, Kiai Arief juga menggeluti pertanian. Pernah ia menanam buah garbis dan semangka. Penanaman dua buah ini hasilnya cukup gemilang. Ketika masa panen tiba, buah garbis dan semangka yang menyembul dari rerimbunan daun yang terserak di areal persawahan terbilang mekar dan besar-besar. Fantastis! Sama halnya dengan buah blimbing, konon rasa buah garbis dan semangka ini amat menggoda lidah. Seperti dituturkan Mbah Nyai Thowilah, rasa buah garbis dan semangka amat manis. Hatta, ada pedagang dari Jakarta yang kepincut, lantas memborongnya untuk dipasarkan di Ibukota.

Walau boleh dikata Kiai Arief sukses dengan tanaman garbis dan semangka, ia tak jumawa. Ia amat bersyukur atas anugerah yang berlimpah. Pantang bagi Kiai Arief untuk lekas-lekas puas. Justru itu, terbersit dalam hatinya untuk lebih mendalami dunia pertanian secara total. Akhirnya, toko ditutup. Seluruh asetnya ditambah hasil penjualan buah garbis dan semangka dijadikan modal pertanian.

Dengan modal itu, Kiai Arief menyewa areal persawahan seluas 6 hektar di kawasan utara Desa Beratkulon. Seluruhnya ditanami padi. Dengan penuh ketekunan, Kiai Arief dibantu para santri merawat padi, memupuk juga mencabuti rumput agar padi tumbuh subur. Padi Kiai Arief berkembang pesat. Sepuas mata memandang, tampaklah batang-batang padi yang menghijau. Daun-daunnya bergoyang landai diterpa semilir angin sepoi-sepoi.

Padi pun perlahan-lahan berubah menguning. Bulir-bulirnya padat berisi, lekuk merunduk ibarat gambaran jamaah salat yang sedang rukuk. Sebentar lagi masa panen tiba dan bayangan rezeki melimpah ruah dari hasil panen padi berputar-putar di depan mata. Wajarlah. Akan tetapi, tak kurang dari seminggu, padi yang terhampar menguning itu diserbu hama wereng. Astaga! Sebagian bulir-bulirnya rontok, sebagian lainnya kosong melompong. Hancurlah harapan, sebab mimpi mendulang rezeki tak sesuai dengan kenyataan. Padi seluas 6 hektar itu gagal dipanen. Gagal total!

Kiai Arief tertunduk lesu. Rupanya, ia tengah dicoba. Inilah misteri ilahi. Semakin nyata bahwa rezeki merupakan salah satu rahasia selain kelahiran, jodoh, dan kematian. Semuanya ada di tangan Tuhan. Kiai Arief betul-betul menyadari betapa nyata kemahakuasaan Tuhan. Padi yang siap dipanen, tiba-tiba berantakan. Padahal seluruh modal sudah ludes. Beginilah ujian hidup. Kiai Arief bertekad menghadapinya dengan semangat yang pantang redup.

Dampak dari gagal panen ini sungguh luar biasa bagi kehidupan keluarga Kiai Arief. Hampir selama setahun terhitung sejak gagal panen itu, keluarga Kiai Arief tak sanggup lagi makan nasi. Sebagai pengganti, mereka mengonsumsi gaplek—makanan yang diolah dari ketela pohon (kaspe)—sebagai menu sehari-hari. Tempo itu, Ning Arifah, Gus Arifin, dan Gus Irfan telah lahir. Dan, ketiga putra Kiai Arief itu mau tak mau sempat merasakan kehilangan asupan gizi yang diperoleh dari nasi. Tubuhnya kurus dan kulitnya pucat pasi. Karena itu, meski kenyang, namun ketika malam tiba mereka terkadang merintih sebab perut terasa amat perih.

Walau demikian, kondisi yang memprihatinkan itu disembunyikan rapat-rapat. Bahkan keluarga mertua Kiai Arief di Japanan pun tak mengetahui hal ini. Bagi Kiai Arief, kondisi itu tak layak diwartakan. Biarlah ia dan keluarganya yang menanggung kepedihan itu. Keluarga orangtua dan mertua sepatutnya disuguhi warta bahagia. Prinsip Kiai Arief, pedih mesti disimpan sendiri, jika bahagia baru boleh dibagi.

Betapa lika liku perjalanan keseharian Kiai Arief, dengan keteladanan yang secara tidak langsung mengajarkan kepada kita bahwa dalam menjalani kehidupan, kita harus sepenuhnya yakin bahwa Alloh SWT selalu mengiringi langkah kita dalam menjalankan kebaikan dan kemaslahatan serta kita harus tetap semangat berjuang bahwa suatu usaha tidak akan mengkhianati hasil, maksudnya sebesar apa kita melakukan, sebesar pula apa yang kita perjuangkan maka hasilnya sepadan dengan apa yang kita lakukan. itu bukti bahwa kesederhanaan kiai arief beratkulon patut kita teladani

-- Dikulik dari buku "Jejak Keteladanan KH Arief Hasan"
Related Posts

Related Posts

2 komentar