Pengikut

uNqxTDPAMkB91mAzsfOzI1Os9mxYnxiovtueTU23

Mengapa Orang Membedakan Kaya Dan Miskin?


Peran.netMengamati realita masyarakat, status sosial kaya dan miskin menjadi persoalan yang penting dan terkait erat dengan persoalan agama. Salah satunya mengenai persoalan zakat dan qurban, orang kaya berzakat kepada fakir dan miskin, seorang muslim menyalurkan daging qurban juga kepada fakir miskin dan lain sebagainya. Namun persoalannya menjadi pelik manakala perspektif agama dan masyarakat memiliki berbedaan parameter dalam menentukan standar kaya dan miskin

Padahal tradisi pembagian zakat dan penyaluran daging kurban sudah berlangsung dari tahun ke tahun. Sebagaian masyarakat hanya menilai bahwa seseorang yang memiliki harta banyak meskipun berwujud benda mati (tidak bisa di kembangkan) seperti kemegahan bangunan tempat tinggal, kepemilikan tanah di mana mana, berbagai macam kendaraan dan bahkan sudah ada perwakilan bekerja adalah orang kaya. Sedangkan orang mereka yang memiliki harta sedikit meskipun sudah memiliki pekerjaan tetap dan semua kebutuhan dirinya dan keluarganya tercukupi namun merasa belum tercukupi adalah tergolong kelompok orang miskin.

Nah, perspektif masyarakat sangat berbeda beda yang menimbulkan argument rancu, dari sinilah perlu kiranya kita perjelas bagaimana pandangan agama islam memberi ulasan tentang siapa masyarakat yang tergolong orang kaya dan siapa yang tergolong miskin, tepatkah pandangan masyarakat dalam mengolongan kelompok masyarakat kaya dan masyarakat miskin terkait dengan hak penerimaan zakat, qurban (udhiyah), dan lain - lain?


Di sini saya memberikan gambaran sedikit parameter kaya dan miskin terkait pandangan masyarakat dalam mengolongan kelompok masyarakat kaya dan masyarakat miskin seperti di atas terkait dengan hak penerimaan zakat, qurban (udhiyah), dan lain – lain. Dalam pandangan agama islam menurut prespektif fiqih al-mahdzab al-arba’ah mendefinisikan fakir miskin sebagai berikut :


  • Hanafiyah : fakir adalah orang yang memiliki harta berkembang (Nami’) kurang dari satu nishob (senilai 200 dirham/ -+ 754 gram perak) atau orang yang memiliki harta tidak berkembang mencapai nishab namun habis untuk memenuhi kebutuhan primer. Sedangkan miskin adalah orang yang tidak memiliki harta sama sekali.
  • Malikiyah : fakir adalah orang yang memiliki harta namun tidak mencukupi kebutuhan makanan pokok selama satu tahun. Dalam satu riwayat Ibnu Qosim, orang yang memiliki lebih dari empat puluh dirham perah tidak berhak menerima zakat, sedangkan miskin adalah orang yang tidak mempunyai harta sama sekali.
  • Syafi’iyah : fakir adalah orang yang tidak memiliki harta atau ketrampilan dan kesempatan bekerja sama sekali atau memiliki namun tidak mencukupi dari setengah dari kebutuhan primernya untuk kebutuhan dirinya dan orang yang menjadi tanggung jawab nafkahnya selama umur gholib (usia rata-rata manusia -+63 tahun). Sedangkan miskin adalah orang yang memiliki harta namun tidak mencukupi untuk kebutuhan hidupnya secara penuh.
  • Hanabilah : Fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta sama sekali atau mempunyai harta namun tidak mencukupi dari setengah dari kebutuhan hidupnya. Ahmad Bin Hanbal dalam pendapatnya yang menjadi pedoman muta’akhirin menegaskan, standar kaya-fakir adalah kebutuhan hidup. Namun dalam pendapatnya yang diUgemi mutaqoddimin Hanabilah, bila orang yang memiliki lima puluh dirham (-+135,75 gram perak) atau emas yang senilai itutidak bisa di masukkan dalam golongan fakir meskipun harta tersebut tidak mencukupi kebutuhannya. Sedangkan mengenai definisi miskin, Hanabilah tidak jauh dengan syafi’iyah.
Sehingga pandangan masyarakat tersebut bisa dibenarkan untuk menghantar dugaan (Dhan) bahwa parameter kaya dan miskin seorang karena dilandasi bukti bukti lahiriyah yang nyata. Namun masalah berhak menerima dan tidaknya mengenai parameter kaya dan miskin harus sesuai dengan kenyataan sebagaimana definisi definisi diatas. Semoga dengan sedikit penjelasan nya semoga bermanfaat dan berkah.

(sumber : Kifayatul Akhyar vol. I hal. 197 dan al mabsuth vol. X hal. 187)
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar