Pengikut

uNqxTDPAMkB91mAzsfOzI1Os9mxYnxiovtueTU23

PERBEDAAN TAFSIR DAN TA'WIL AL QUR’AN


https://www.peran.net/
Ulimul Qur'an



Peran.net - Al Qur’anul Karim adalah sumber tasyri’ pertama bagi umat Muhammad SAW. Dan kebahagian mereke tergantung pada pemahaman maknanya, pengetahuan rahasia-rahasianya dan pengalaman apa yang tergantung di dalamnya. Kemampuan seseorang dalam memahami lafadz dan memahami al qur’an tidaklah sama, padahal penjelasannya sedemikian gamblang dan ayat-ayatnyapun sedemikian rinci. Perbedaan daya nalar diantara mereka ini adalah suatu hal yang tidak dipertentangkan lagi. Kalangan awam hanya memahami makna-maknanya yang dhahir dan pengertian ayat-ayatnya secara global. Sedang kalangan cerdik cendikia dan terpelajar akan dapat menyimpulkan pula dari padanya makna makna yang menarik. Dan di antara dua kelompok ini terdapat aneka ragam dan tingkat pemahaman. Maka tidaklah mengherankan jika al qur’an mendapatkan perhatin besar dari umatnya melalui pengkajian intensif terutama dalam rangka menafsirkan kata-kata garib (aneh,ganjil) atau mentakwilkan tarkib (susunan kalimat). Berikut perbedaan tafsir dan ta'wil dalam al qur'an :

Pengertian tafsir 

       Tafsir secara bahasa mengikuti wazan “Taf’il”, berasal dari akar kata al-fasr (f, s, r) yang berarti menjelaskan, menyingkap dan menampakkan atau menerangkan makna yang abstrak. Kata kerjanya mengikut wazan “daraba – yadribu” dan “yafsuru, fasran” dan “fasarohu”, artinya “abanahu” (menjelaskannya). Kata at tafsir dan al-fasr mempunyai arti menjelaskan dan menyingkap yang tertutup. Dalam lisanul arab dinyatakan: Kata “al-fasr” berarti menyingkap sesuatu yang tertutup, sedangkan kata “at-tafsir” berarti menyingkap suatu maksud sesuatu yang musykil, pelik. Dalam al qur’an di nyatakan :
وَلا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا (٣٣)  
Dan tidaklah mereka datang kepadamu(membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan paling baik tafsir-nya”. (al-furqon [25]:33) Maksudnya , “paling baik penjelasan dan perinciannya”. Diantara kedua bentukkata itu, al-fasr dan at-tafsir, kata at-tafsirlah yang paling banyak di gunakan.

      Tafsir menurut istilah, sebagaimana di definisikan Abu Hayyan, ialah ”Ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafadz-lafadz al qur’an, tentang pentunjuk-petunjuknya hukum-hukumnya baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun dan makna-makna yang di mungkinkan baginya ketika tersusun serta hal-hal lain yang melengkapinya”.

       Kemudian Abu Hayyan menjelaskan secara rinci unsur-unsur definisi tersebut sebagai berikut :
Kata-kata “Ilmu” adalah kata jenis yang meliputi segala macam ilmu. “yang membahas cara mengucapkan lafadz-lafadz Al-Qur’an”, mengacu pada ilmu qiro’at. “Petunjuk-petunjuknya” adalah pengertian-pengertian yang di tunjukkan oleh lafadz-lafadz itu, ini mengacu pada ilmu bahasa yang di prlukan dalam ilmu tafsir ini. Kata-kata “hokum-hukumnya baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun”, meliputi ilmu shorof, ilmu I’rob, ilmu bayan, dan ilmu Badi’. Kata-kata “Makna-makna yang di mungkinkan baginya ketika tersusun”, meliputi pengertiannya yang hakiki dan majazi; sebab suatu susunan kalimat (tarkib) terkadang menurut lahirnya menghendaki sesuatu makna tetapi untuk membawanya kemakna lahir itu terdapat penghalang sehingga tarkib tersebut mesti di bawa ke makna yang bukan makna lahir, yaitu majaz. Dan kata-kata “hal-hal yang melengkapinya”, mencakup pengetahuan tentang naskh, sebab nuzul, kisah-kisah yang dapat menjelaskan sesuatu ang kurang jelas dalam Al-Qur’an, dan lain sebagainya.
Secara umum, mengenai pengertian Tafsir secara bahasa ini tidak ada masalah, karena pada intinya arti secara bahasa adalah menyingkapkan, menjelaskan, menerangkan, memberikan perincian atau menampakkan.
Sedangkan menurut istilah, para ahli mengartikan tafsir dengan pengertian sebagai berikut:
  1. Menurut Al-Jurjani, tafsir adalah menjelaskan makna ayatnya, kisahnya, dan sebab yang karenanya ayat diturunkan, dengan lafadz yang menunjukkan kepadanya dengan jelas sekali.
  2. Menurut Az-Zarkazyi, ialah suatu pengetahuan yang dengan pengetahuan itu dapat dipahamkan kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW menjelaskan maksud-maksudnya mengeluarkan hukum-hukumnya dan hikmahnya.
  3. Menurut Al-Kilbyi ialah mensyarahkan al-qur’an, menerangkan maknanya dan menjelaskan apa yang dikehendakinya dengan nashnya atau dengan isyaratnya ataupun dengan najwahnya.
  4. Menurut Syeikh Thorir, ialah mensyarahkan lafad yang sukar difahamkan oleh pendengan dengan uraian yang menjelaskan maksud dengan menyebut muradhifnya atau yang mendekatinya atau ia mempunyai petunjuk kepadanya melaui suatu jalan (petunjuk).
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para Ulama diatas, bisa disimpulkan tafsir berarti keterangan mengenai makna yang dimaksudkan dalam Al-Qur’an baik dalam kerangka pemikirnya masing-masing atau berpatokan pada riwayat dan pengetahuan seseorang.

Macam-macam Tafsir

       Secara umum para ulama telah membagi tafsir menjadi dua bagian yaitu: Tafsir bi al-riwayah, atau disebut juga dengan tafsir bil ma’tsur, dan tafsir bid dirayah atau disebut juga dengan tafsir bi al-ra’yi.

1) Tafsir Bil Ma’tsur
      Tafsir bi al-ma’tsur adalah cara menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an yang bersumber dari nash-nash, baik nash Al-Qur’an, sunnah Rasulullah saw, pendapat (aqwal) sahabat, ataupun perkataan (aqwal) tabi’in. Dengan kata lain yang dimaksud dengan tafsir bi al-ma’tsur ada 3 macam :

a) Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an yakni menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an yang lain. Misalnya seperti dalam surat Al-Hajj: 30

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الأنْعَامُ إِلا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الأوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ (٣٠)

itulah Yang wajib dipatuhi; dan sesiapa Yang menghormati hukum-hukum Allah maka Yang demikian menjadi kebaikan baginya di sisi Tuhannya. dan Dihalalkan bagi kamu binatang-binatang ternak, kecuali Yang dibacakan kepada kamu (tentang haramnya), maka jauhilah kekotoran syirik Yang disebabkan oleh penyembahan berhala, serta jauhilah perkataan Yang dusta” - Kalimat "diterangkan kepadamu" (illa ma yutla ‘alaikum) ditafsirkan dengan surat al-Maidah: 3.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالأزْلامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣)

“diharamkan kepada kamu (memakan) bangkai (binatang Yang tidak disembelih), dan darah (yang keluar mengalir), dan daging babi (termasuk semuanya), dan binatang-binatang Yang disembelih kerana Yang lain dari Allah, dan Yang mati tercekik, dan Yang mati dipukul, dan Yang mati jatuh dari tempat Yang tinggi, dan Yang mati ditanduk, dan Yang mati dimakan binatang buas, kecuali Yang sempat kamu sembelih (sebelum habis nyawanya), dan Yang disembelih atas nama berhala;,,,

b) Menafsirkan Al-Qur’an dengan As-Sunnah/Hadits yakni menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan merujuk pada Sunnah/Hadits nabi misalnya seperti Surat Al-An’am ayat 82 :

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (٨٢)

“orang-orang Yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka Dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang Yang mendapat keamanan dan merekalah orang-orang Yang mendapat hidayah petunjuk”.

       Kata “al-zulm” dalam ayat tersebut, dijelaskan oleh Rasul Allah saw dengan pengertian “al-syirk” (kemusyrikan) dengan mengkaitkannya dengan firman Alloh dalam Surat Luqman : إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ( sesungguhnya Syirik adalah kedloliman yang besar )

c) Menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapat para sahabat
Contoh surat an-Nisa’ ayat: 2. Mengenai penafsiran sahabat terhadap Alquran ialah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Halim dengan Sanad yang saheh dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menerangkan ayat ini:

وَآتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا (٢)
“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.”
       Kata ”hubb” ditafsirkan oleh Ibnu Abbas dengan memaknai dosa besar.

       Beberapa kitab tafsir bil ma`tsuur yang terkenal diantaranya :
  • Tafsir Ibnu Abbas       : Tanwiirul Miqbas min Tafsiiri Ibn Abbas,
  • Tafsir at Thabari         : Jamii’ul Bayaan fii Tafsiiril Qur`an,
  • Tafsir Ibnu ‘Atiyyah    : Muharrarul Wajiiz fi Tafsiiril Kitaabil ‘Aziz,
  • Tafsir Ibnu Katsir        : Tafsiirul Qur`aanul ‘Azhiim.
2) Tafsir Bir Ra’yi
       Yaitu penafsiran Al-Qur’an berdasarkan rasionalitas pikiran (ar-ra’yu), dan pengetahuan empiris (ad-dirayah). Tafsir jenis ini mengandalkan kemampuan “ijtihad” seorang mufassir, dan tidak berdasarkan pada kehadiran riwayat-riwayat (ar-riwayat). Disamping aspek itu mufassir dituntut untuk memiliki kemampuan tata bahasa, retorika, etimologi, konsep yurisprudensi, dan pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan wahyu dan aspek-aspek lainnya menjadi pertimbangan para mufassir.
       Husayn al Dhahaby menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tafsir bir ra`yi adalah penafsiran Al-Qur`an atas dasar ijtihadnya yang berlandaskan pengetahuannya tentang penuturan bangsa Arab dan arah pembicaraan mereka serta pengetahuannya tentang lafal bahas Arab dan makna yang ditunjukkannya dengan menjadikan syair jahily sebagai acuan dan panduannya. Meskipun demikian, lanjut al Dhahaby, asbaabun nuzuul, naasikh wa mansuukh, dan alat bantu lainnya merupakan pengetahuan-pengetahuan yang tetap harus dikuasai dan digunakan dalam penafsiran ini.
Contoh surat al-Alaq: 2
خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢)
     “Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku;”

       Kata alaq disini diberi makna dengan bentuk jamak dari lafaz alaqah yang berarti segumpal DARAH yang kental.

     Tafsir bir ra`yi ada dua macam:
         1. Tafsir dengan pikiran yang tercela (madzum / mardud).Ialah bila mufassir dalam memahami
          Pengertian kalimat yang khas dan ministimbatkan hukum hanya dengan menggunakan pikirannya saja dan tidak sesuai dengan ruh syari’at. Yang banyak menggunakan penafsiran bentuk ini ialah tokoh-tokoh bid’ah yang menurut pikiran mereka saja. Umpamanya tafsir Jabba’i, Rummani, Qadhi Abdul Jabbar, Zamakh Syari, dan Abdul Rahman bin Kisan Ashmi  
           2. Tafsir dengan menggunakan pikiran yang terpuji (mahmudah / maqbul)
      Ialah tafsir yang tidak bertentangan dengan syariat, jauh dari kebodohan (selaras dengan qoidah-qoidah bahasa Arab), dan juga merupakan ijtihad muqayyad atau yang dikaitkan dengan satu kait berpikir mengenai kitab Allah menurut hidayah sunnah Rasul yang mulia.

           Para Ulama bersepakat bahwa persyaratan yang harus dipenuhi bagi seorang mufassir adalah sebagai berikut:
      a. Ilmu Bahasa                 : untuk mengetahui kosa kata dan maknanya.
      b. Ilmu Nahwu                 : untuk mengetahui perubahan suatu kata.
      c. Ilmu Shorof                  : untuk mengetahui perubahan bentuk kata.
      d. Ilmu Balaghah              : untuk mengetahui keistimewaan susunan.
      e. Ushul Fiqh                    : untuk mengistimbathkan hukum dari.
      f. Ilmu Hadits                   : agar tidak mudah terbawa arus cerita Israliyat
      g. Ilmu Isytiqaq                : untuk mengetahui dasar pembentukan akar kata.
      h. Ilmu Qira’ah                 : untuk menentukan qiraat yang sesuai arti.
      i. Ilmu Ushuluddin           : untuk mengetahui dalil kandungan Al-Qur’an.
      j. Asbabun an-Nuzul        : untuk mengetahui maksud ayat dari turunnya.
      k. Ilmu Nasikh Mansukh  : untuk mengetahui ayat-ayat yang muhkam
      l. Ilmu Fiqh                       : untuk mengetahui pandangan para fuqaha'

      Pengertian Ta’wil
              Menurut bahasa Ta’wil di ambil dari kata Awwala – Yuawwilu – Ta’wilan : kembali kepada asalnya. Adapula yang mengatakan bahwa ta’wil berasal dari akar kata “Al ‘Aulu” yang berarti “Ar Ruyu”, yaitu “kembali”. Dikatakan pula bahwa ia diambil dari kata “Al-Ayalah”, yang berarti “As-Siya sah”, yakni mengatur, seakan-akan mengatur-atur kalimat, menimbang-nimbangnya, membolak-balikannya untuk memperoleh arti dan maksudnya.

           Adapun Ta’wil menurut istilah ulama salaf yaitu menegaskan yang dimaksud ada dua macam, yaitu:
      1. Ta’wil adalah menafsirkan kalimat dan menerangkan artinya, baik arti tersebut sama dengan bunyi lahiriah kalimat tersebut ataupun berlawanan.
      2. Ta’wil adalah Esensi dari apa yang dikehendaki oleh suatu kalimat. Maka apabila kalimat itu berupa tuntutan, maka ta’wilnya adalah esensi dari perbuatan yang dituntut, dan jika berupa rangkaian kalimat berita maka ta’wilnya adalah esensi dari suatu yang diberitakan.[
           Dalam definisi lain ta’wil secara bahasa berasal dari kata ”aul” yang berarti kembali keasal, atas dasar ini maka ta’wil secara istilah diartikan menjadi dua makna yaitu :

              Pertama, ta’wil dengan pengertian suatu makna kalam yang kepadanya mutakallim (pembicara, orang pertama) mengembalikan perkataannya, atau suatu makna yang yang kepadanya suatau kalam dikembalikan . Dan kalam itu kembali dan merujuk kepada makna hakikinya yang merupakan esensi sebenarnya yang dimaksud. Kalam ada dua macam, insya dan ikhbar, salah satu yang termasuk insya adalah amr (kalimat perintah ). Maka ta’wil amr adalah esensi perbuatan yang diperintahkan. Misalnya hadist yang diriwayatkan dari Aisyah r.a. Ia berkata : ”adalah Rasulullah membaca di dalam ruku’ dan sujudnya subhanallah wabi hamdika Allahummagfir li. Beliau menta’wilkan (menjalankan perintah) Al-Qur’an . maksudnya firman Allah : maka bertasbihlah memuji tuhanmu dan mohonlah ampun kepadanya. Sesungguhnya Dia Maha penerima taubat. (An-Nasr :3).

              Kedua, ta’wil kalam dalam arti menafsirkan dan menjelaskan maknanya. Pengertian inilah yang dimaksudkan Ibn Jabir At-Tabrani dalam tafsir-nya dengan kata-kata, pendapat tentang ta’wil firman Allah ini ...Begini dan begitu...dalam hal ini ahli ta’wil menganggap bahwa yang dimaksud dengan ta’wil adalah tafsir. Akan tetapi diantar para ulama ada yang membedakan antara tafsir dan ta’wil karena walaupun maknanya agak berdekatan akan tetapi tetap memiliki perbedaan.
      Singkatnya, ta’wil menurut istilah adalah suatu usaha untuk memahami lafadz (ayat-ayat) melalui proses pendekatan pemahaman arti yang dikandung oleh lafadz itu. Dengan kata lain berarti menerangkan lafadz dengan alternatif kandungan makna yang bukan merupakan makna lahirnya.

      Perbedaan Tafsir dan Ta’wil

              Para ulama berbeda pendapat tentang perbedaan antara kedua kata tersebut. Berdasarkan pada pembahasan di atas tentang makna tafsir dan ta'wil, kita dapat menyimpulkan pendapat terpenting di antaranya sebagai berikut:
      1. Ta'wil adalah menafsirkan perkataan dan menjelaskan maknanya, maka “ta'wil” dan “tafsir” adalah dua kata yang berdekatan atau sama maknanya. Termasuk pengetian ini adala Do’a Rosululloh untuk Ibnu Abbas: “Yaa Alloh, berikanlah kepadanya kemampuan untuk memahami agam dan ajarkanlah kepadanya tak'il.
      2. Ta’wil adalah esensi yang dimaksud dari suatu perkataan, maka ta’wil dari talab(tuntutan) adalah esensi dari perbuatan yang di tuntut itu sendiri dan ta’wil dari khabar adalah esensi sesuatu yang diberitakan. Atas dasar ini maka perbedaan tafsir dan takwil cukup besar. Sebab tafsir merupakan syarah dan penjelasan dari suatu perkataan dan penjelas ini berada dalam pikiran dengan cara memahaminya dan dalam lisan dengan cara ungkapan yang menunjukkannya. Sedang takwil adalah esensi sesuatau yang berada dala realita (bukan dalam pikiran). Sebagai contoh, jika dikatakan “Matahari Telah Terbit”, maka takwil ucapa ini ialah terbitnya matahari itu sendiri. Inilah pengertian takwil yang lazim dalam bahasa Al-Qur’an sebagaimana telah dikemukakan. Alloh SWT berfirman : “atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya”. Katakanalah: “(kalau benar yang kamu katakana itu), maka cobalah datangkan sebuah surah seumapanya san panggilah siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Alloh, jika kamu orang-orang yang benar”. Tetapi sebenarnya mereka mendustakan apa yang mereka belum ketahuinya dengan sempurna padahal belum dating kepada meeka takwilnya”. (Yunus 10: 38-39). Yang dimaksud dengan ta'wil disini ialah terjadinya sesuatu yang di beritakan.
      3. Tafsir adalah apa yang telah jelas di dalam kitabulloh atau tentu (pasti) dalam hadist yang sahih karena maknanya telah jelas dan gamblang. Sedang takwil ialah apa yang disimpulkan para ulama’. Karena itu sebagaian ulama’ mengatakan “Tafsir adalah apa yang berhubungan dengan riwayat sedang takwil adalah yang berhubungan dengan dirayah”.
      4. Tafsir lebih banyak dipergunakan dalam(menerangkan) lafadz dan mufrodat(kosa kata), sedang takwil lebih banyak di pakai dalam(menjelaskan) makna dan susunan kalimat. Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat yang lain.

      Keutamaan tafsir
             Tafsir adalah ilmu syari’at paling agung dan paling tinggi kedudukannya. Ia merupakan ilmu yang paling mulia objek pembahasan dan tujuannya serta dibutuhkan. Objek pembahasannnya adalah Kalamulloh yang merupakan sumber segala hikmah dan “tambing” segala keutamaan.

            Tujuan utamanya adalah untuk berpegang teguh pada tali yang kokoh dan mencapai kebahagian yang hakiki. Dan kebutuhan terhadapnya sangat mendesak karena segala kesmpurnaan agamawi dan duniawi haruslah berjalan dengan syara’ sedang kesejalanan ini tergantung dengan pegetahuan tentang kitabulloh.

             Semoga Alloh memberikan kemanfaatan atas tulisan ini dan melimpahkan pertolongan dan kebenaran kepada kita semua. Amin ..

      (sumber : studi ilmu-ilmu Al-Qur’an, Al Itqon jilid 2)
      Related Posts

      Related Posts

      1 komentar