Pengikut

uNqxTDPAMkB91mAzsfOzI1Os9mxYnxiovtueTU23

Biografi Lengkap Imam An-Nawawi

PERAN.NET - Imam An-Nawawi lahir pada pertengahan bulan Muharam tahun 631 H dikota Nawa di sebuah daerah Hauran sekitar 85 km dari kota Damaskus di Suriah. Nama lengkap beliau adalah Al-Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Muri bin Hasan bin husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam Al-Hizami An-Nawawi Asy-Syafi'i (الإمام العلامة أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي الدمشقي). Panggilannya: Abu zakaria, namun panggilan ini tidak sesuai dengan aturan yang biasa berlaku. Para ulama telah menganggapnya suatu kebaikan sebagaimana yang dikatakan Imam An-Nawawi bahwa disunnahkan memberikan panggilan julukan kepada orang-orang yang shaleh baik dari kaum laki-laki maupun perempuan, mempunyai anak atau tidak mempunyai anak, memakai panggilan anaknya sendiri atau orang lain, dengan abu fulan atau abu fulanah bagi seorang laki-laki dan ummu fulan atau ummu fulanah bagi perempuan.

Imam An-Nawawi dijuluki Abu Zakaria karena namanya adalah Yahya. Orang arab sudah terbiasa memberi julukan Abu Zakaria kepada orang yang bernama Yahya, karena ingin meniru Yahya Nabi Allah dan ayahnya Zakaria A.S, sebagaimana juga seorang yang bernama Yusuf dijuluki Abu Ya’qub, orang yang bernama Ibrahim dijuluki Abu Ishaq dan orang yang bernama Umar dijuluki Abu Hafsh. Pemberian julukan seperti di atas tidak dengan peraturan yang berlaku sebab Yahya dan Yusuf  adalah anak bukan ayah, namun gaya pemberian julukan seperti itu sudah biasa didengar dari orang-orang arab.

Al-Hizami, yang dimaksud dengan ini adalah kakeknya Hizam yang tersebut di atas. Syaikh Imam An-Nawawi pernah bercerita bahwa sebagian kakeknya menyangka Al-Hizami merupakan nisbat pada Hizam Abu Hakim, salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Hizam di sini adalah kakeknya seorang yang mampir di Jaulan desa Nawa seperti kebiasaan orang-orang Arab. Lalu bermukim di sana dan diberikan keturunan oleh Allah hingga manusia menjadi banyak.
An-Nawawi adalah nisbat pada desa Nawa tersebut. Dia merupakan pusat kota Al-Jaulan, dan berada di kawasan Hauran di Provinsi Damaskus. Jadi Imam An-Nawawi adalah orang Damaskus karena menetap di sana selama kurang lebih delapan belas tahun. Abdullah bin Al-Mubarak pernah berkata, “Barangsiapa yang menetap di suatu negeri selama empat tahun, maka dia dinisbatkan kepadanya.

Sewaktu masih kecil saat umur sepuluh tahun beliau di ajak bermain teman-temannya, namun beliau tidak mau untuk bermain. Teman temannya mengajak dengan memaksa supaya beliau mau di ajak untuk bermain. Beliau menolak dan menangis di ajak, di karenakan pada saat itu beliau sedang membaca Al Qur’an. Kebetulan saat itu di lihat oleh Syaikh Yasin bin Yusuf Al-Marakisyi. Kejadian itu membuat Syaikh Yasin terkesan dan menjadi cinta kepada anak tersebut. Syaikh tersebut langsung mendatangi ayah An-Nawawi dan menasehatinya Supaya tidak sibuk dengan daganggannya dan agar anaknya lebih di fokuskan  untuk belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu islam. Syaikh itu mendatangi guru ngaji An-Nawawi mengatakan bahwa anak ini insya allah kelak akan menjadi ulama rabbani dan banyak memberikan manfaat yang besar kepada umat islam. Perhatian ayah dan guru ngaji beliau pun menjadi besar sehingga beliau berhasil menghafal Al-Qur’an 30 juz sebelum usia baligh.

Ketika berusia 19 tahun Imam An-Nawawi  ayahnya mengajak pergi ke Damaskus untuk menuntuk ilmu. An-Nawawi belajar di Madrasah Rawahiyyah selama kurang lebih dua tahun. Beliau mengerahkan segala kekuatan dan pikirannya untuk mendalami ilmu yang di berikan di sekolah. Beliau berhasil menghafal kitab At-Tanbih kurang lebih selama 4,5 bulan, Menghafal seperempat dari kitab Al-Muhadzdah selama 7,5 bulan. Beliau belajar dalam sehari dua belas pelajaran dari berbagai cabang ilmu islam dan bahasa arab dari banyak guru. Beliau juga mempelajari kitab-kitab ilmu islam yang lainnya, sampai gurunya yang bernama Imam Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad bin Utsman Al-Maghribi kagum akan kesungguhannya dalam belajar ilmu agama islam.

Imam An-nawawi bergelar Muhyiddin. Namun, ia sendiri tidak senang diberi gelar tersebut. Al-Lakhani mengatakan bahwa Imam An- Nawawi tidak senang dengan julukan Muhyiddin yang di berikan orang kepadanya. Ketidaksukaan itu disebabkan karena adanya rasa tawadhu’ yang tumbuh pada diri Imam An-Nawawi, meskipun sebenarnya dia pantas diberi julukan tersebut karena dengan dia, Allah menghidupkan sunnah, mematikan bid’ah, menyuruh melakukan perbuatan yang ma’ruf, mencegah perbuatan yang mungkar dan memberikan manfaat kepada umat Islam dengan karya-karyanya.
Imam An-Nawawi adalah ulama yang paling banyak mendapatkan cinta dan sanjungan makhluk. Orang yang mempelajari biografinya akan melihat adanya wira’i, zuhud, kesungguhan dalam mencari ilmu yang bermanfaat, amal soleh, ketegasan dalam membela kebenaran dan amar ma’ruf, nahi mungkar, takut dan cinta kepada Allah Swt dan kepada Rasul-Nya. Semua itu menjelaskan rahasia mengapa ia dicintai banyak orang.

Pada tahun 651 H An-Nawawi di ajak oleh ayahnya untuk menunaikam ibadah haji. Saat waktu wukuf bertepatan dengan hari jum’at dari awal bulan Rajab dan singgah di kota Madinah kira kira sebulan setengah. Ayah beliau bercerita”sejak mulai perjalanan dari desa Nawa, An-Nawawi jatuh sakit demam dan flu sampai waktu wukuf ia tidak pernah mengeluh dan tidak merintih sepatah kata pun”. Beliau menjalani cobaan tersebut dengan sabar dan ikhlas. Sesudah menunaikan ibadah haji beliau kembali lagi ke Damaskus, beliau giat menuntut ilmu dan mengamalkannya kepada orang lain.

Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhhud, wara’ dan bertakwa. Beliau sederhana qana’ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktunya dalam ketaatan, beliau sedikit tidur dan malamnya banyak di gunakan untuk ibadah dan menulis. Beliau juga menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kepada para penguasa dengan cara yang bijaksana.

Itulah sedikit kisah dari Imam Nawawi Rahimahullah yang dapat kita jadikan contoh  sebagai tauladan yang baik. Bahwa kita harus semangat dalam menuntut ilmu agama islam tanpa mengeluh sedikitpun. Dan menjalani segala sesuatu  dengan sabar dan ikhlas.

Imam An-Nawawi merupakan ulama yang besar pada masanya. Menurut pendapat, ia meninggal dunia saat umurnya tidak lebih dari 45 tahun. Ia telah meninggalkan berkas-berkas, ketetapan-ketetapan dan kitab-kitab ilmiah yang berbobot. Dengan peninggalan-peninggalan tersebut, ia telah menunjukkan bahwa ia melebihi ulama-ulama dan imam- imam pada masanya. Imam An-Nawawi menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat, rela berada di pondok yang disediakan untuk para siswa. Merasa puas dengan makanan roti dan buah tin. Ia memanfaatkan semua waktu dan tenaganya untuk melayani umat Islam. Ia memakai pakaian tambalan dan tidak menghiraukan perhiasan dunia, agar mendapatkan ridho Allah Swt (Hamid, 2001: 6).

Imam An-Nawawi mempunyai banyak karya ilmiah yang terkenal di seluruh penjuru dunia diantaranya:

1. Dalam bidang hadits :

  • Al-Arba'in An-Nawawiyah (الأربعين النووية)
  • Riyadhus Shalihin (رياض الصالحين)
  • Al-Minhaj, Syarah Shahih Muslim(شرح صحيح مسلم)
  • At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir (التقريب والتيسير لمعرفة سنن البشير النذير), pengantar studi hadits.
2. Dalam bidang fiqih :
  • Minhaj ath-Thalibin (منهاج الطالبين وعمدة المفتين في فقه الإمام الشافعي)
  • Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu` Syarhul Muhadzdzab (المجموع شرح المهذب)
  • Matn al-Idhah fil-Manasik (متن الإيضاح في المناسك)

3. Dalam bidang bahasa :

  • Tahdzibul Asma’ wal Lughat.

4. Dalam bidang akhlak :

  • At-Tibyan fi Adab Hamalah al-Quran (التبيان في آداب حملة القرآن).
  • Bustanul Arifin, Al-Adzkar (الأذكار المنتخبة من كلام سيد الأبرار)

5. Dan lain-lain :

  • Tahdzib al-Asma (تهذيب الأسماء).
  • Ma Tamas Ilaihi Hajah al-Qari li Shahih al-Bukhari (ما تمس إليه حاجة القاري لصـحيح البـخاري).
  • Tahrir al-Tanbih (تحرير التنبيه).
  • Adab al-Fatwa wa al-Mufti wa al-Mustafti (آداب الفتوى والمفتي والمستفتي).
  • At-Tarkhis bi al-Qiyam (الترخيص بالقيام لذوي الفضل والمزية من أهل الإسلام).
  • At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an (التبيان في آداب حملة القرآن

Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an merupakan sebuah kitab karya Imam An-Nawawi, yang berisi tentang bagaimana adab dalam proses belajar mengajar. Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an merupakan sebuah karya tulis klasik yang secara umum pada pendahuluan kitab selalu mengikuti tradisi zaman yang biasa dilakukan oleh ulama salafush shalihin ketika menulis sebuah kitab. Oleh karena itu karya bidang ini dimulai dengan pujian kepada Allah, diiringi shalawat kepada Rasulullah dan memuji asma Allah setelah itu disusul dengan pembahasan atau isi kitab yang akan disampaikan (Hamid, 2001: 5).

Kitab ini berisi sepuluh bab yang terangkum dalam satu jilid buku dengan tebal 221 halaman (mempunyai perbedaan dalam jumlah halamannya antara setiap percetakan). Antara bab satu dengan yang lainnya saling berhubungan karena kitab ini hanya membahas satu tema seputar adab atau tata bercengkrama dengan Al-Qur’an.
 
Terdapat bebebapa point penting mengenai syarat-syarat, kewajiban dan adab-adab yang harus dimiliki oleh seorang peserta didik yang sedang menempuh proses pendidikan dalam pandangan Imam an-Nawawi yang terdapat dan terangkum di dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an di antaranya sebagai berikut:

1.    Peserta didik hendaknya mempunyai niat belajar untuk mencari ridha Allah.
2.    Hendaknya tujuan belajar bukan hanya untuk kepentingan dunia.
3.    Peserta didik hendaknya fokus dalam belajar.
4.    Peserta didik hendaknya menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat.
5.    Peserta didik hendaknya tawadhu’ terhadap Guru/ Pendidik.
6.    Peserta didik hendaknya berdiskusi dan meminta nasihat kepada Guru/ Pendidik.
7.    Peserta didik hendaknya belajar kepada guru yang ahli di bidangnya.
8.    Peserta didik hendaknya menghormati dan memuliakan Guru/ Pendidik.
9.    Peserta didik hendaknya bersih jasmani dan rohani ketika akan belajar.
10.  Peserta didik hendaknya menghormati teman-temannya.
11.  Peserta didik hendaknya melihat dan memahami kondisi Guru.
12.  Peserta didik hendaknya bersabar terhadap sikap dan perilaku Guru/ Pendidik.
13.  Peserta didik hendaknya mempunyai semangat tinggi dan kemauan yang keras.
14.  Peserta didik hendaknya bersungguh-sungguh dalam belajar.
15.  Peserta didik hendaknya belajar di pagi hari.
16.  Peserta didik hendaknya rajin mengulang-ulang pelajaran yang lalu.
17.  Peserta didik hendaknya menjauhi sifat hasad (Hamid, 2001: 16).
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar