Pengikut

uNqxTDPAMkB91mAzsfOzI1Os9mxYnxiovtueTU23

BIOGRAFI KH. MA'SHUM LASEM (MBAH MA'SHUM)

Peran.net - Kyai Haji  Ma'shum Lasem lebih familiar denga sebutan Mbah Ma'shum dengan julukan ayam jago dari Jawa merupakan ulama’ kutural Nusantara yang sangat berpengaruh sampai sekarang 

MBAH MA'SHUM LASEM

KELAHIRAN DAN NASAB

Nama asli Mbah Ma’shum terlahir dengan nama Muhammadun, lahir tahun 1870 M. Ayah beliau bernama Kyai Haji Ahmad, seorang saudagar pada masanya. Dan ibu Mbah Ma’shum bernama Nyai Qoshimah. Mbah Ma’shum mempunyai dua saudara, yakni Nyai Zainab dan Nyai Malichah

Nasab Mbah Ma’shum dari jalur ayahnya, beliau masih punya hubungan darah dengan Sultan Mahmud Al-Minagkabawi (Minangkabau), yang makamnya di Jejeruk Bonang Lasem. Dan silsilahnya bersambung hingga Sunan Giri sampai ke Rosululloh SAW.


MENIMBA ILMU

Sejak kecil Mbah Ma’shum telah dikirim kebeberapa pondok pesantren untuk mendalami ilmu agama, di antaranya kepada Kyai Nawawi Jepara, Kyai Ridhwan Semarang, Kyai Umar Harun Sarang, Kyai Abdus Salam Kajen, Kyai Idris Jamsasren Solo, Kyai Hasyim Asy’ari jombang dan Kyai Kholil Bangkalan. Di Makkah beliau berguru kepada Syekh Mahfudz At-Turmusi dari Termas. Tanda-tanda keutamaan Mbah Ma’shum telah diketahui secara kasyaf oleh Mbah Kholil Bangkalan, seorang Wali Qutub yang amat masyhur.

Dikisahkan, sehari sebelum kedatangan Mbah Ma’shum ke Bangkalan. Mbah Kholil menyuruh para santri membuat kurungan ayam. “Tolong buatkan aku kurungan ayam jago, besok akan ada ayam jago datang ke sini dari tanah jawa” begitu dawuh Mbah Kholil kepada santrinya. Begitu esok harinya Mbah Ma’shum datang, yang saat itu masih terbilang masih remaja usia beliau sekitar 20-an tahun, baliau langsung dimasukkan kekurungan itu tanpa ada rasa menggugat. Dilain hari Mbah Ma’shum disuruh Mbah Kholil untuk mengajar kitab Alfiyah selama 40 hari. yang aneh, pengajaran dilakukan oleh Mbah Ma’shum disebuah kamar tanpa lampu, sedangkan santri-santrinya berada di luar. Lama menyantri Mbah Ma’shum di Bangkalan hanya 3 bulan. Ketika hendak pulang, Mbah Kholil memanggilnya dan mendo’akannya dengan do’a Sapu Jagat. Lalu, Mbah Kholil melangkah bebrapa meter, beliau dipanggil lagi oleh Mbah Kholil dan di do’akan dengan do’a yang sama. Kejadian ini terjadi berulangkali hingga 17 kali.


KELUARGA

Mbah Ma’shum Menikah 2 kali – Istri pertama meninggal dunia tanpa keturunan, putri Mbah Musthofa. Sedang istri kedua adalah Bu Nyai Nuriyyah, Keponakan Mbah Baidlowi, jalur nasabnya sampai kepada Mbah Sambu 

Mbah Ma’shum mempunyai dua saudara, yakni Nyai Zainab dan Nyai Malichah

Putra pertama Mbah Ma’shum yakni, Kyai Ali Ma’shum, kelak menjadi pemimpin Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta dan pernah menjadi Rais ‘Am NU.

Kepemimpinan Pondok Pesantren Al-Hidayat Lasem sepeninggal Mbah Ma’shum kemudian dilanjutkan putra ketiganya, yaitu Kyai Ahmad Syakir sebagai Pengasuh. 

Beliau sempat menjadi pendagang baju hasil jahitan Bu Nyai Nuriyah, juga berjualan perkakas rumah tangga atau khlitikan seperti lampu pertomak, sendok, garpu, konde, dan peniti di Pasar Jombang.

Sembari berdagang beliau juga menyempatkan diri untuk mengajar umat dan secara rutin untuk berkunjung ke Tebuireng, beliau aktif sebagai khatib di forum musyawarah yang dipimpin oleh kyai Hasyim Asy’ari selaku Rais walau dari segi usia Mbah Ma’shum lebih tua 


ISYAROH KANJENG ROSUL

Mbah Ma’shum berhenti berdagang setelah bermimpi Rosululloh SAW beberapa kali, dimana Kanjeng Rosululloh SAW menasehati agar meninggalkan perdagangan dan beralih menjadi pengajar umat.

Mimpi itu terjadi dibeberapa tempat – di Stasiun Bojonegoro, saat antara tertidur dan terjaga, beliau berjumpa Kanjeng Rosululloh  SAW yang memberinya nasihat La Khayra illa Fii Nasyr Al-Ilmi (Tiada kebaikan kecuali menyebarkan ilmu). 

Beliau juga bermimpi bersalaman dengan Kanjeng Rosululloh SAW dan setelah bangun tangannya masih berbau wangi. Beliau juga bermimpi bertemu Kanjeng Rosulloh SAW sedang membawa daftar sumbangan untuk membangun pondok pesantren dan berpesan kepada Mbah Ma’shum, “Mengajarlah .. dan segala kebutuhanmu InsyaAlloh akan dipenuhi semuanya oleh Alloh”. 

Kyai Hasyim Asy’ari memberi julukan Mbah Ma’shum dengan panggilan Kang Mas karena sudah akrab. Ketika dikonsultasikan dengan gurunya, Kyai Hasyim Asy’ari, mengatakan mimpi itu sudah jelas dan tidak perlu lagi ditafsirkan. 

Setelah mimpi-mimpinya itulah beliau menetap di Lasem dan istiqomah mengajar, sejak itu hidup Mbah Ma’shum berubah, dari pedagang fokus mengamalkan ilmu agama di Lasem. 

Sejak muda Mbah Ma’shum sudah hidup zuhud, sebelum mendirikan pesantren, beliau berziarah dulu ke beberapa makam Wali Alloh, seperti makam Habib Ahmad Ibnu Abdulloh Ibnu Tholib Alatas, Sapuro Pekalongan. 

Menurut Mbah Ma’shum saat berziarah pada malam jum’at, Habib Ahmad Alatas menemuinya dan memimpin do’a bersama. Setelah itu Mbah Ma’shum keliling kota meminta sumbangan, dan berhasil mendapatkan sejumlah uang yang dibutuhkan untuk membangun 2 (dua) kamar pesantren. 

Selain ke makam Mbah Jejeruk (Sutan Mahmud) di Binangun Lasem, setiap kali berziarah ke makam Mbah Jejeruk ini Mbah Ma’shum bersama santri-santrinya sering membaca Shalawat Nariyah 4444 kali dalam sekali ziarah

Pondok Pesantren Al-Hidayah didirikan Mbah Ma’shum pada tahun 1918 M, yang didahului membangun Musholla pada tahun 1916 M, antara lain hasil persembahan Ning Fatimah putrinya yang merelakan perhiasan emas miliknya dijual untuk modal membangun. 

Mbah Ma’shum selama hidupnya banyak mengajar, berperan aktif langsung dalam mendidik santrinya. Beliau juga memiliki kebisasaan mengajar beberapa kitab yang diajarkan secara terus-menerus berulang-ulang artinya jika kitab itu khatam, maka akan dimulai dari awal. 

Di antaranya adalah pelajaran Al-Qur’an, Fathul Qorib, Fathul Wahhab, AlFiyah Ibnu Malik, Riyadus Shalihin, dan Ihya’ Ulumuddin. Dalam mengajar santri Mbah Ma’shum amat disiplin dan istiqomah kata beliau adalah lebih utama ketimbang seribu karomah.


SANTRI MBAH MA’SHUM

Pada tahun 1956 M mendirikan pondok pesantren putri, banyak santrinya yang menjadi ulama’ besar dan tidak sedikit yang kemudian hari menjadi tokoh-tokoh penting dalam peraturan sosial keagamaan dan politik Nasional, diantaramya seperti :

1. KH. Abdul Hamid Pasuruan

2. KH. Abdulloh Faqih Langitan

3. KH. Bisri Mustofa Rembang

4. KH. Mustamid Abbas Buntet Cirebon

5. KH. Imron Hamzah Surabaya

6. KH. Subki Masyhadi Pekalongan

7. KH. Ahmad Saikhu Jakarta

8. KH. Bisri Syansuri Jombang

9. KH. Ahmad Saikhu Jakarta

10. KH. Ali Maksum Krapyak Yogyakarta

11. KH. Mukti Ali Mentri Agama

12. KH. Saifuddin Zuhri Mentri Agama dan lain-lain. 

Mbah Ma’shum sendiri pernah berjuang diperlemen menjadi Anggota Konstitusi, di antara teman sejawatnya adalah TGH Zainuddin bin Abdul Madjid Pancor Lombok NTB, beliau senatiasa menjalin silaturrahmi, jujur, mengayomi, menghormati tamu dan teguh menjaga kebenaran

Seluruh hidupnya diabdikan kepada masyarakat, terutama kaum dhuafa’, beliau bahkan menganggap pengabdian ini sebagai laku tarekatnya. Menurutnya, “saya sudah menggunakan tarekat langsung dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yakni berupa Hubb Al-Fuqara’ Wal Masakiin (mencintai kaum faqir dan miskin). 

Mbah Ma’shum rajin silaturrahmi ke santri-santrinya, tidak membeda-bedakan satu sama lainnya, rela naik turn gunung, masuk keluar kampung, masuk keluar kota. 

Hal demikian membuat hubungan dengan santri-santrinya sangat dekat atau erat. Kyai besar dan Wali Alloh yang amat dihormati di kalangan umat Islam ini, yang biasa disapa Mbah Ma’shum adalah salah satu dari tiga pendiri NU Lasem selain Kyai Baidlowi Abdul Aziz dan Kyai Kholil Masyhuri.


KIPRAH MBAH MA’SHUM DI NAHDLATUL ULAMA’ (NU)

Prinsip dasar NU dalam kehidupan masyarakat telah dipraktekkan Mbah Ma’shum dalam kehidupan sehari-hari, kemudian dirumuskan oleh Jam’iyyah NU berupa sikap tasamuh (toleransi), tawazun (berimbang), i’tidal (adil) dan tawassuth (moderat). 

Sebagai pendiri NU beliau juga gigih berjuang mendukung membesarkan NU bersama kyai-kyai lainnya. Beliau amat mencintai organisasi ini, sehingga beliau menyatakan tidak Ridho jika anak keturunnya tidak mengikut NU. Bahkan Mbah Ma’shum sendiri selalu di datangi banyak kyai jika ada urusan penting di tubuh NU untuk meminta nasihat dan do’anya.

Misalnya ketika hangat-hangatnya pembentukan Jamiyyah Thariqoh Al-Mu’tabarah An-Nadliyah, Mbah Ma’shum termasuk yang setuju dan menjadi salah satu “petinggi” organisasi tarekat itu, di mana Mbah Baidlowi Bin Abdul Aziz sebagai Raisul Akbar nya.

Selain itu banyak pula tokoh lain yang sowan kepada beliau guna meminta do’a restu. Hal ini juga dilakukan oleh Profesor Kyai Haji Mukti Ali salah satu muridnya dulu, saat di angkat menjadi menteri agama. 

Mbah Ma’shum bersedia mendo’akan Mukti Ali jika dia mau mengikuti sarannya, yang salah satunya menunjukkan kebesaran jiwanya : “Engkau jangan sekali-kali membenci NU, sebab membenci NU sama dengan membenci saya, karena NU itu saya yang mendirikan bersama-sama ulama’ lain. Tetapi engkaupun jangan membenci Muhamadiyyah. Janganpula membenci PNI dan partai lain, kau harus dapat berdiri ditengah-tengah dan berbuat adil terhadap mereka”.


PERJUANGAN MELAWAN PENJAJAH

Ketika pecah hura-hura pemberontakan G 30 S PKI, Mbah Ma’shum terpaksa melakukan perjalanan bolak balik pulang pergi, dari desa ke desa dalam kota yang sama, karena beliau termasuk toko yang diincar hendak dibunuh oleh PKI. 

Namun beliau tetap memimpin Pondok Pesantren Al-Hidayah bersama putra putri dan santrinya, menjadi pusat perlawanan Lasem terhadap PKI sampai dapat ditumpas di kota Lasem. 

Bahkan saat perlawanan itu Kepolisian Lasem dibawah pimpinan Dandis-Nya justru lebih sering Rapat Koordinasi di Pesantren Al-Hidayah bersama-sama santri, seolah-olah berpindah kantor.


KAROMAH MBAH MA’SHUM

Mbah Ma’shum merupakan sosok ulama’ yang dikenal mempunyai banyak karomah (keistimewaan)  antara lain keistimewaan tersebut :

Firasat Yang Tajam 

Hal ini dibuktikan dengan mengetahui isi pikiran orang, sebagaimana pada umumnya para wali Alloh, Mbah Ma’shum mengetahui kapan dirinya akan meninggal dunia. isyaroh kewafatan beliau sendiri. 

Beliau atas kahendak Alloh SWT tahu kapan dirinya akan meninggal, ketika Mbah Baidhowi wafat pada 11 Desember 1970 M / 12 Syawal 1390 H, Mbah Ma’shum menyatakan bahwa 2 tahun lagi dirinya akan wafat – pernyataan ini menjadi kenyataan. 

Menurut seorang saksi, Mbah Ma’shum Ketika didepan jenazah Mbah Baidhowi, beliau seperti bicara dengan Almarhum, dan berkata, “Ya, 2 tahun lagi saya akan menyusul”, 

Menurut Denis Lombard, ahli sejarah dari Prancis, “Mbah Ma’shum adalah seorang guru (kyai) dari Lasem yang kurang dikenal ditingkat Nasional, namun  kematiannya pada tahun 1972 menimbulkan guncangan hebat dari satu ujung jaringan lainnya”. 

Bagi catatan penulis yang mengalami hidup Nyai Azizah Ma’shum , bayang bayang Mbah Ma’shum ayahhandanya itu tercermin dari keteladanan prilaku hidup kesehariannya, juga dikenal tokoh muslimat, ahli silaturrahimi, mencintai fakir miskin serta aktif menggerakkan pengajian ndi masyarakat dan pesantren 

Bertemu Para Wali Alloh (WALI 9)

Ada satu kisah karomah lain yang menunjukkan ketinggian kedudukan spiritualnya. Dikisahkan bahwa suatu waktu seusai sholat Dhuha, beliau dipijat oleh santrinya yang bernama Ahmad hingga tertidur, mendadak diluar kamar terdengar ada tamu yang menyampaikan salam. Ada Sembilan orang tamu berwajah arab, duduk melingkar di ruang tamu. 

“Mbah Ma’shum ada?” Tanya salah satu dari mereka, oleh ahmad dijawab masih tidur, sambil menawarkan untuk membangunkannya.

“Tidak usah” kata tamu itu, lalu para tamu itu berbicara sama lain dengan Bahasa yang aneh, 

kemudian mereka  ‘membaca sholawat lalu berpamitan. Begitu para tamu beranjak keluar, 

Mbah Ma’shum memanggil Ahmad, “Ada apa Mad?” 

setelah dijelaskan, Mbah Ma’shum menyuruh Ahmad memanggil tamunya itu, namun dalam waktu sesingkat itu para tamu itu sudah menggilang. 

Kemudian Mbah Ma’shum memberi tahu bahwa mereka adalah Sunan Ampel dan 8 (Delapan) Wali lainnya. Subhanalloh … inilah bagian dari kisah karomah Mbah Ma’shum.

Di bidang dakwah, atas jerih payah Mbah Ma’shum kepedulian banyak orang gotong royong berhasil membangun sedikitnya 7 (tujuh) masjid dipelosok, beberapa desa sekitar yaitu di Desa Gowak, Kajar, Korowelang, kali Tengah, Megal, Sumbang Rejo, dan Solopuro Dukuh Tulis. Tidak berhenti di situ, beliau juga menugaskan santrinya ikut berdakwah. 

Persediaan Beras Melimpah

Ada sebuah kisah, suatu ketika Mbah Ma’shum menyuruh santri bernama zulkifli untuk mengecek persediaan beras di al hidayah.

Beras sudah habis, dan habisnya beras itu disusul dengan terjadinya musim kemarau di lasem. Mbah Ma’shum menyuruh zulkifli untuk memanggil cucu-cucunya. Bersama cucu-cucunya (santri zulkifli diajak juga) Mbah Ma’shum memimpin istighotsah dan membaca potongan syair burdah berikut :

 يَا اَكْرَمَ الْخَلْقِ مَالِىْ مَنْ اَلُوْذُ بِهِ # سِوَاكَ عِنْدِ حُلُوْلِ الْحَدِيْثِ الْعَمَم

Artinya : wahai makhluq paling mulia (muhammad) saya tidak ada tempat untuk mencari perlindungan, kecuali kepadamu, pada kejadian malapetaka nan besar.

Syair Burdah tersebut dibaca 80 kali, dilanjutkan dengan doa sebagai berikut: “Ya Allah, orang-orang yang ada dalam tanggungan kami sangat banyak, tetapi beras yang ada pada kami telah habis. Untuk itu kami mohon rizqi dari-Mu.”

Selain mengamini, Nadhiroh, salah seorang cucunya, berteriak, “Mbah, tambahi satu ton.”

Ditimpali oleh Mbah Ma’shum, “Tidak satu ton, tepi lebih….”

Beberapa hari kemudian, beras seolah mengalir dari tamu-tamu yang datang dari berbagai kota, seperti Pemalang dan Pasuruan, ke tempat Mbah Ma’shum.

Menurut bapak zulkifli, wirid istighosah itu jika diamalkan sangat manjur, tentu dengan bimasya’atilah.

Masih soal beras. Pada kali yang lain, setelah mengajar 12 santrinya lalu diikuti dengan membaca Alfiyah, Mbah Ma’shum minta mereka mengamini doanya, karena persediaan beras sudah habis.

“Ya Allah, Gusti, saya minta beras….”

“Amin…,”

ke-12 santri itu, yang ditampung dan ditanggung di rumah Mbah Ma’shum, khidmat menyambung doanya. Doa tersebut di sampaikan tanpa muqoddimah dan tanpa penutup seperti umumnya doa.

Jam sebelas siang, datang sebuah becak membawa beberapa karung beras. Tanpa pengantar, kecuali alamat ditempel di karung-karung beras itu. Di sana tertera jelas, kotanya adalah Banyuwangi. Kepada santrinya yang bernama Abrori Akhwan, Mbah Ma’shum minta agar mencatat alamat yang tertera di karung itu.

Suatu saat ketika berkunjung ke Banyuwangi, Mbah Ma’shum bermaksud mampir ke alamat itu. Saat alamat tersebut ditemukan, tempat itu ternyata kebun pisang yang jauh di pedalaman. Ironisnya, masyarakat di sana hampir-hampir tak ada yang kelebihan rizqi.

Mengetahui Bisikan Hati

H. Abrori Akhwan saat masih nyantri di al Hidayah pada awal dekade 60-an, dia pernah diminta untuk memijiti Mbah Ma’shum. Saat sedang memijit, H. Abrori akhwan bertanya-tanya dalam hati, beberapa pertanyaan itu antara lain:

“Jika benar Mbah Ma’shum seorang kiai, kenapa dia tidak sering terlihat menggunakan peci haji atau serban saat keluar rumah.”

“Jika benar Mbah Ma’shum seorang kiai, kenapa dia tidak tampak sering berdzikir dalam waktu yang lama.”

“Jika benar Mbah Ma’shum seorang kiai, kenapa tidak banyak kitab kuning di ndalemnya.”

Pertanyaan tersebut tergelitik dalam hati H. Abrori Akhwan saat sedang memijiti Mbah Ma’shum. Tanpa di duga, Mbah Ma’shum secara lisan memberikan penjelasan yang merupakan sebuah jawaban atas apa yang sedang di pikirkan oleh H. Abrori akhwan di dalam hatinya tadi. Mbah Ma’shum saat itu menyatakan bahwa :

“Seorang kiai tidak harus menggunakan peci haji atau serban.”

“Dzikir seorang kiai tidak harus berupa membaca beberapa bacaan tertentu, dan dalam waktu yang lama. Berdzikir kepada Allah SWT bisa di lakukan langsung secara praktik, seperti mengajar atau menolong sesama.”

“Kitab kuning yang dimiliki Mbah Ma’shum sebenarnya banyak, tetapi mayoritas di bawa (untuk di kaji ) oleh putranya yang bernama Ali maksum.”

Penjelasan Mbah Ma’shum di atas dengan sendirinya dapat dipahami bahwa beliau tidak tertarik dengan simbolisme keagamaan dan tidak sebaliknya bahwa beliau lebih senang atau menekankan isi ketimbang kulit.

Mendatangkan Kendaraan

Kali ini soal dokar/delman. Santri yang mengawal Mbah Ma’shum kebingungan. Setelah maghrib, sudah menjadi kebiasaan, dokar di daerah Batang, Pekalongan, tidak akan ada yang berani keluar kecuali kalau dicarter. Namun Mbah Ma'shum berkata,“Salat dulu, kendaraan soal belakang.”

Ketika itu rombongan Mbah Ma'shum sudah sampai di sebuah musala. Maka salatlah mereka secara berjamaah. Bahkan dilanjutkan hingga salat Isya.

Setelah semua selesai, rombongan pun melanjutkan perjalanan. Dan, tanpa diduga, begitu rombongan keluar dari halaman musala, lewatlah sebuah dokar kosong. Mereka pun menaikinya. Subhanallah.

Akal-Akalan Kiai Bisri

Perbedaan pandangan yang meruncing antara Kiai Idham Khalid dan Pak Subhan ZE sebagai pimpinan puncak NU membuat para sesepuh prihatin. Mbah Kiyai Ma’shum Lasem pun memanggil Kiyai Bisri Mustofa.

“Sri, mbok kamu bikin ikhtiar untuk merukunkan Idham sama Subhan!” perintahnya.

Kiai Bisri garuk-garuk kepala. Di satu sisi, ia memahami keprihatinan para sesepuh. Di sisi lain, ia sendiri punya dugaan bahwa mungkin saja “perselisihan” di antara dua pemimpin itu disengaja. Paling tidak diperlukan. Kenapa?

Indonesia dan NU sedang dalam masa-masa genting peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Ada harapan-harapan, tapi tak ada yang bisa memastikan apa yang akan dilakukan oleh Soeharto, si penguasa baru. Di depan mata hanya ada pilihan-pilihan sulit. Oleh karenanya, “perselisihan” di antara kedua pemimpin itu ibarat “menyediakan sekoci di tengah badai”.

Kiai Bisri merasa, tidak mudah menjelaskan pikirannya itu kepada Mbah Ma’shum, sedangkan ia terlalu ta’dhim kepada beliau untuk membantah. Maka ia berusaha mengelak,

“Panjenengan yang sepuh kan lebih berwibawa, ‘Yai”.

“Nggak bisa! Ini soal rumit. Harus pakai akal-akalan. Kamu kan banyak akal!” Mbah Ma’shum memaksa.

Tak berkutik, Kiai Bisri pun mematuhi perintah Mbah Ma’shum, yakni merancang akal-akalan.

Ia beli satu peti Green Spot (soft-drink yang populer waktu itu) dan satu peti sirup Kawis (sirup khas produk Rembang). Dia suruh santri mengantarkan Peti Green Spot kepada Pak Subhan ZE dengan pesan: “Dari Kiai Idham Khalid, mohon tanda terima”. Pada saat yang sama, santri lain disuruh mengantarkan limun Kawis kepada Pak Idham dengan pesan: “Dari Pak Subhan ZE, mohon tanda terima”.

Maka diperolehlah dua lembar tanda terima:

“Telah terima satu peti Green Spot dari KH Idham Khalid. Terimakasih sebesar-besarnya. Ttd: Subhan ZE”

“Telah terima satu peti limun Kawis dari Saudara Subhan ZE. Jazaakumullah. Ttd: Idham Khalid”.

Kiai Bisri menghaturkan kedua lembar tanda terima itu ke hadapan Mbah Ma’shum.

“Sudah bisa rukun, ‘Yai”, ia melapor, “lha ini sudah saling kirim-kiriman…”

Mbah Ma’shum sumringah. Dan entah siapa yang pada hakekatnya menjadi sasaran akal-akalan…

Mendengar Keluhan Orang-orang di Neraka

Di tahun-tahun terakhir hayat beliau, beliau selama beberapa waktu pernah menyuruh seoarang santrinya yang bernama harir, untuk membaca ayat berikut :

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang Telah kami kerjakan. Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”.

Mbah Ma’shum menyuruhnya untuk membaca ayat tersebut karena beliau merasa sedang mendengar keluhan keluhan orang-orang yang ada di neraka. Ayat tersebut dibaca berulang-ulang setiap malam selama beberapa bulan.


WAFAT MBAH MA’SHUM

Mbah Ma’shum wafat pada hari Jum’at 20 Oktober 1972 (12 Ramadhan 1392 H) jam 2 siang setelah shalat jum’at, di makamkan di komplek Masjid Jami’ Lasem. 

Upacara pemkamannya dibanjiri massa yang ingin memberikan penghormatan terakhir. 

Pemakamannya dihadiri oleh banyak tokoh ulama’, petinggi partai politik dan penjabat pemerintah. 

Antara lain KH. Abdul Hamid Abdulloh, KH. Bishri Musthofa, HM Subchan ZE (Wakil Ketua PBNU), Sayyid Idrus Bin Hud Assegaff, Gubernur Jawa Tengah Bapak Munadi, Dll. (disarikan dari berbagai sumber)

                                            WASIAT MBAH MA'SHUM : 

"Aku ora ridho yen anak turunku onok seng ora NU" 

"Termasuk dadi santriku, sing ziarah quburku, walaupun ora menangi uripku"

"Ojok Nolak (jangan tidak memberi) wong njaluk, senajan (besarnya) ora sesuai penjalukan (permintaan)" 

"Ojo nganti ono tamu ora iso kepethuk aku, yen aku turu gugah 1 jam"

Related Posts

Related Posts

1 komentar