Pengikut

uNqxTDPAMkB91mAzsfOzI1Os9mxYnxiovtueTU23

Bagaimana Kondisi Islam di Prancis Dan Jerman Terkini?

Umat Muslim di Eropa sempat mendapat kecaman karena adanya peristiwa terror. Lalu, bagaimanakah kondisi Islam di Prancis dan Jerman terkini? Simak penjelasannya. 

==========

jerman dan prancis


Sejarah Islam di Prancis

Dalam jurnal Suparto Iribaram, disebutkan bahwa proses islamisasi di Prancis telah terjadi sejak abad ke-8. Saat itu, sedang terjadi transisi kekuasaan dari Dinasti Bani Umayyah ke Dinasti Bani Abbasiyah. Islam pun berkuasa di Perancis selama kurang lebih 40 tahun.

Setelah Perang Salib, Islam mundur dari Perancis tapi proses islamisasi tetap berlanjut. Akan tetapi, setelah masa Perang Salib proses islamisasi terjadi melalui jalur perdagangan. Banyak pedagang muslim yang datang ke negara tersebut sambil menyebarkan ajaran agama Islam. 

Islam pun semakin berkembang dengan pesat di negara Perancis karena adanya migrasi muslim. Oleh karena itu, mulai banyak dibangun masjid untuk memfasilitasi kegiatan ibadah umat Islam di Perancis. 

Kondisi Agama Islam di Prancis

Kendati pernah mengalami masa kejayaan di Eropa, tidak membuat keadaan umat Islam di Eropa khususnya Prancis menjadi baik. Hal ini bermula dari kebijakan presiden Emmanuel Macron yang memberikan kebebasan berpendapat. 

Hal tersebut membuat satire yang diungkapkan oleh Charlie Hebdo pada tabloidnya beberapa tahun silam kembali ke permukaan. Sebenarnya, Charlie Hebdo tidak hanya mengkritik Islam tapi juga agama lainnya. Ketika satire ini kembali diangkat, muncullah berbagai konflik termasuk aksi teror. 

Itulah salah salah satu penyebab yang membuat muslim di Prancis merasa kurang aman. Padahal, jumlah umat Islam di Prancis adalah yang terbanyak di Eropa. Pada tahun 2020, tercatat bahwa penduduk Prancis yang menganut agama Islam mencapai 7 juta jiwa. 

Angka tersebut cukup besar dan menempati tingkat kedua penduduk beragama di Prancis kedua setelah Katolik. 

Banyaknya penganut agama Islam di Perancis ini disebabkan oleh migrasi besar-besaran yang terjadi pasca perang dunia kedua. Lalu, migrasi terbesar terjadi pada tahun 1970an ketika banyak pelajar dari luar Eropa datang. 

Pada saat itulah, mulai banyak muslim yang membuka identitas diri secara terang-terangan mengenai keislamannya. Bahkan mulai membangun masjid dan membuat organisasi Islam di Perancis. Selain itu juga mulai banyak yang mengajarkan ajaran Islam secara terbuka. 

Konflik Umat Islam di Perancis

Masjid Prancis

Umat Islam di Prancis sudah mulai menunjukkan identitasnya hingga menyebarkan ajaran agama Islam secara terbuka. Hal ini dianggap sebagai sebuah ancaman bagi pemerintah karena semakin banyak penganut Islam. Oleh karena itu, terdapat larangan berhijab di berbagai tempat di negara Prancis.

Lalu, keadaan semakin memanas ketika karikatur Nabi Muhammad pada tabloid Charlie Hebdo kembali dinaikkan. Masalah tersebut membuat banyak muslim di Eropa merasa geram, yang kemudian berakhir dengan aksi kekerasan dan teror.

Sebenarnya, awal mula konflik terjadi ketika seorang guru Sejarah di Prancis, Samuel Petty, dipenggal oleh kelompok Islam radikal. Pemicunya karena Samuel Petty menampilkan kartu Rasul di kelasnya menggunakan proyektor. Hal itu mendapat kecaman dari muslim di Eropa terutama dari penganut Islam radikal.

Lalu, pada Oktober tahun 2020 terjadi penyerangan di gereja Nice Prancis yang dilakukan oleh seorang wanita muslim radikal. Akibat penyerangan tersebut, tiga orang jemaat gereja menjadi korban penusukan wanita tersebut. 

Puncak dari konflik ini adalah ketika tabloid Charlie Hebdo menampilkan kartun Nabi Muhammad di Gedung Pemerintahan kota Montpellier selama 4 jam. Ini merupakan balas dendam karena terjadinya pembunuhan warga Perancis oleh kelompok Islam radikal.

Hal tersebut tentu saja dikecam oleh muslim di Prancis karena dianggap sebagai penghinaan terhadap agama Islam. Padahal, Islam merupakan salah satu agama terbesar di Perancis. Tapi dengan adanya prinsip sekularisme dan liberalisme membuat umat Islam di Perancis terus mendapat tekanan dari berbagai pihak.

Penghinaan terhadap umat Islam di Prancis tersebut pun dikecam oleh muslim di berbagai belahan dunia. Bahkan, pada bulan November lalu sempat naik tagar untuk memboikot produk-produk Prancis di sejumlah negara. 

Sejarah Islam di Jerman 

Islam di Jerman juga memiliki sejarah yang cukup panjang sejak abad ke-17. Saat itu, umat Islam berasal dari tawanan perang kekaisaran Ottoman. Namun, setelah itu banyak yang menganut Kristen atau kembali ke negara asalnya. 

Lalu pada tahun 1735 sampai 1739, semakin banyak muslim di negara ini. Hal ini disebabkan oleh terjadinya perang Russo-Turki sehingga banyak tawanan perang. Setelah hubungan kerajaan dan kekaisaran membaik, keadaan umat Islam pun mulai membaik. 

Saat itu, mulai banyak muslim yang datang dan menetap di Jerman. Bahkan dibangun pemakaman hingga masjid untuk muslim di Jerman. 

Di Eropa, penduduk muslim di Jerman merupakan yang terbanyak kedua setelah Perancis. Namun, di Negara Jerman sendiri jumlahnya hanya 5.5% dari total penduduknya. 

Kondisi Islam di Jerman

Islam Di Jerman

Tidak seperti di Perancis, kondisi umat Islam di Jerman sedikit lebih baik. Sebab, dapat hidup berdampingan terutama Kristen yang merupakan mayoritas di Jerman. Bahkan memiliki tingkat toleransi yang lebih tinggi. 

Hal ini terlihat dari bantuan gereja Martha Lutern yang memberikan bantuan pada muslim. Selama masa pandemi, pusat ibadah ditutup sementara. Lalu pada bulan Mei kembali dibuka dengan syarat dibatasi. 

Tentu hal ini memberi dampak yang cukup besar. Sebab, masjid Dur Assalam yang biasanya bisa menampung hingga 1000 orang hanya bisa menampung sedikit. Hal tersebut disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang membatasi kerumunan maksimal 50 orang. 

Kondisi tersebut membuat pengurus gereja Martha Luthern menawarkan bantuan. Umat Islam dapat menggunakan bangunan gereja untuk aktivitas keagamaan selama pandemi. Sebab, ukuran gedung gereja lebih besar daripada masjid.

Tentu hal tersebut disambut dengan baik oleh pengurus masjid Dar Assalam. Sehingga selama masa pandemi ini muslim harus menggunakan gereja untuk beribadah. 

Kendala lainnya yang dialami oleh muslim di Jerman adalah berkurangnya dana sumbangan untuk operasional masjid. 

Selama masa pandemi, dana sumbangan menurun drastis. Hal ini membuat banyak masjid mengalami kesulitan. Sebab, biaya operasional untuk masjid tidaklah sedikit. 

Bahkan, tidak sedikit masjid yang tidak dapat membayar sewa gedung. Kondisi yang memprihatinkan ini membuat aktivitas ibadah untuk umat Islam di negara tersebut terhambat. 

Tidak seperti gereja yang mendapat kucuran dana dari pemerintah, masjid di Jerman harus membiayai sendiri. Oleh karena itu, organisasi Islam yang menaungi lebih dari 400 masjid mengajukan permintaan dana. 

Akan tetapi, hingga sekarang belum ada tanggapan dari pemerintah. Sebab, perekonomian Jerman pun sedang terpuruk akibat pandemi. 

Meski berada di dataran yang sama, kondisi Islam di Eropa 2020 memang cukup berbeda. Muslim di Perancis harus berjuang untuk mempertahankan hak-haknya sebagai penganut agama. 

Sedangkan di Jerman harus berjuang untuk membiayai masjid agar dapat terus digunakan beribadah di masa pandemi. 

Itulah kondisi Islam di Prancis dan Jerman terkini yang sama-sama sedang mengalami banyak kesulitan. 

Semoga kondisi islam dijerman dan perancis lekas membaik, dan berkembang dengan pesat.

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar