Pengikut

uNqxTDPAMkB91mAzsfOzI1Os9mxYnxiovtueTU23

MENDIDIK MORAL, NILAI, DAN KEAGAMAAN SISWA

Mendidik moral, nilai, dan keagamaan bagi pendidik merupakan suatu keharusan, terutama pada saat usia siswa atau peserta didik sedini mungkin. Ungkap Dr. Muhammad Farid, M.Si. selaku dosen Magister Psikologi Pendidikan Universitas Darul Ulum Jombang. 
Betapa pentingnya peran pendidik dalam mengelola proses belajar mengajar, seperti cerminan keteladanan Nabi Muhammad SAW dan contoh lainnya.
Mendidik Moral
Inspirasi
Suatu hari khalifah Umar bin Abdul Aziz menyewa seekor unta untuk perjalanan ke luar kota.  Ketika perjalanan sudah mencapai 1 kilometer, Umar diberitahu kalau serban beliau tersangkut di salah satu pohon yang telah dilewatinya. Kemudian, Umar turun dari untanya dan berjalan mengambil serbannya.“Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau mengambil sendiri serban itu? Bukankah kita bisa mengambilnya dengan mengendarai unta” tanya sang pemilik unta kepada Umar. “Tidak, saya menyewa untamu hanya untuk pergi, bukan untuk kembali”. Pemilik unta kembali bertanya lagi, “Mengapa engkau tidak menyuruhku untuk mengambilnya?”. Umar menjawab, “Tidak, karena serban itu bukan milikmu, melainkan milikku”. Subhanaallah............

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW saat ini menjadi begitu penting untuk dirayakan, dikenang, dipelajari dan diteladani akhaq mulia sang kekasih Allah Nabiyulloh Muhammad SAW. Saking mulianya beliau, sampai-sampai ketika Allah memerintahkan Izrail dan Jibril untuk bertugas mencabut nyawa sang kekasih Allah itu, Allah dengan cintanya berpesan kepada kedua malaikat itu, “Andai Muhammad menolak untuk dicabut nyawanya, hendaklah kalian kembali”. Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad, Allahumma sholli ‘alaihi wasallam..........

Seluruh manusia yang mengakui dirinya muslim senantiasa merayakan hari kelahiran kekasih Allah ini dengan memperbanyak sholawat dan salam kepada beliau,  dan merindukan memperoleh syafaatnya ketika menghadap Allah. Begitu agungnya akhlaq beliau sebagaimana digambarkan oleh Abbas Mahmud Aqqad dalam ‘Abqariyyatu Muhammad bahwa beliau itu memiliki empat karakter unggul dan sempurna yaitu : (1) karakter ibadah, (2) karakter berpikir, (3) karakter berkomunikasi, dan (4) karakter kerja dan berjuang. 

Karakter unggul dan sempurna Nabi Muhammad SAW ini seharusnya menjadi visi dan misi pendidikan islam di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, masyarakat kita ketika berpikir, bersikap dan berperilaku  semakin menjauh dari akhlaq Rosululloh. Terbukti setiap saat kita memperoleh informasi melalui media massa tentang berbagai bentuk perilaku yang melanggar agama, nilai dan moral. Misalnya tawuran (antar pelajar, mahasiswa, desa/kampung, geng motor, supporter), korupsi, penyalahgunaan obat terlarang,  perilaku seks bebas, dan perilaku menyimpang lainnya.

Perilaku melanggar tatanan agama, hukum dan moral ini melanda siapapun tanpa pandang usia, jenis kelamin dan status sosial. Dilaporkan terdapat para siswa usia SD terlibat tawuran di Bogor (Republika, 21 Mei 2012). Riset yang dilakukan BNN dan UI merilis anak-anak menggunakan ganja ketika usia 8 tahun, dan ketika sudah berusia 10 tahun malah sudah menggunakan ganja, heroin, morfin, ekstasi, serta 50% - 60% pengguna narkoba adalah pelajar dan mahasiswa (Google, diakses 3 September 2013). Hasil suatu survey di 33 propinsi pada pertengahan 2008 menemukan remaja SMP dan SMA yang terpilih sebagai responden menyatakan 63% sudah melakukan hubungan seks di luar nikah, 21% diantara mereka sudah melakukan aborsi (Hestiana, 2009). Penelitian lain melaporkan bahwa satu dari empat remaja sudah melakukan hubungan seks bebas, dan 62,7% remaja perempuan telah kehilangan keperawanan saat yang bersangkutan masih di SMP (Google, diakses 3 September 2013). Seakan tak mau kalah dengan anak-anak dan remaja, ternyata media massa juga menulis ada anggota DPR  tertangkap kamera sedang mengunduh situs porno saat sidang, dan anggota yang lainnya disinyalir sebagai pelaku video porno.

Tontonan nyata tentang perilaku  melanggar agama, etika, kesopanan dan moral ini telah membuat miris para orangtua, tokoh pendidikan dan ulama. Fakta ini menimbulkan pertanyaan di benak kita: Apakah kita telah melakukan kesalahan  dalam mendesain penyelenggaraan pendidikan di sekolah?

Sesungguhnya tidak arif ketika terjadi perilaku nakal melanggar agama, nilai dan moral ditimpakan/dibebankan hanya kepada sekolah yang dituding gagal mengemban misi pendidikan agama, nilai dan moral. Karena pola Kehidupan dalam keluarga dan masyarakat juga turut menyumbang terjadinya perilaku nakal atau menyimpang seseorang. 

Proses terbentuknya perilaku nakal atau menyimpang berlangsung sejak usia anak. Perlakuan (paksaan dan penolakan dalam berinterkasi) oleh orangtua dalam lingkungan keluarga, teman sebaya dan lingkungan sekolah berpengaruh terhadap diri anak. Anak-anak yang merasa ditolak oleh orang-orang yang ada di keluarga, teman-teman di lingkungan sekitar dan di sekolah, maka anak-anak seperti ini akan berinteraksi dengan teman sebaya yang senasib yang dapat berakibat anak-anak melakukan perilaku nakal (Loeber dan Schmaling dalam Ekowarni, 1993).
Lembaga pendidikan formal (sekolah) memiliki peran dan tanggung jawab menumbuhkembangkan seluruh potensi anak didik yang menjadi amanat dan tanggung jawabnya. Sekolah seharusnya mengembangkan seluruh potensi anak didik yang meliputi abilitas, kepribadian, skill dan nilai. Sekolah mengemban amanat untuk transfer of knowledges, transfer of skills dan transfer of values. Misi agung pendidikan  sekolah ini diharapkan menghasilkan kualitas keluaran sebagai pribadi yang diidealkan oleh anak didik(siswa), keluarga dan masyarakat.

Perkembangan Moral seseorang dapat didekati dari (1) Pandangan Psikodinamik bahwa dorongan-dorongan bawaan seseorang untuk  pemenuhan kebutuhan seksual dan agresif telah dikontrol oleh pengembangan superego sebagai suara hati, sehingga terjadi keseimbangan terhadap insting-insting dengan kontrol yang telah dipelajarinya. Sepanjang masa anak-anak perintah yang datang dari orangtua berangsur-angsur akan diinternalisasi oleh anak, demikian pula atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat serta berkembangnya kata hati bagi anak-anak. Perilaku moral merupakan proses kontrol terhadap perkembangan super ego dan kecemasan-kecemasan akan senantiasa muncul dan akan dihubungkan dengan kesalahan-kesalahan atas pikiran dan perbuatan yang dianggap melanggar terhadap undang-undang dan hukum yang berlaku. (2) Pandangan Behavioristik bahwa moralitas seseorang berkembang dari pemikiran model, imitasi dan peniruan serta adanya penguatan (reinforcement). Pada diri anak-anak suatu perilaku itu bermoral atau tidak bermoral  berkembang dari hasil interaksi seseorang dengan lingkungannya. (3) Pandangan Kognitif bahwa seseorang memerhatikan kata hati (internalisasi dari nilai-nilai yang berkembang di masyarakat) dan mempelajari peran-peran penting dalam masyarakat membentuk perkembangan penilaian dan perilaku moral. Pandangan ini berpendapat bahwa interaksi antara faktor bawaan dan pengasuhan/pemeliharaan merupakan penjelasan yang menyeluruh dan komplek terhadap perkembangan moral. (4) Pandangan Interaksionis bahwa kematangan yang dicapai seseorang berangsur-angsur akan membantu melakukan kontrol terhadap perilaku eksternal dengan sesuatu yang internal dan dalam pertumbuhan secara nyata adanya konsistensi terhadap peristiwa moral untuk kekurangan terhadap kontrol eksternal. Pada anak-anak kecil tidak dapat pergi ke tempat tidur sampai dengan datangnya paksaan dari orangtuanya, sedang pada diri remaja sudah mampu mengatur jam tidurnya sendiri berdasarkan kemauannya. Jadi dengan keputusan moral seseorang telah belajar untuk menerima sifat-sifat kebenaran dari orang lain mengapa orang lain memberikan hukuman dan mengatur bagaimana perilakunya memberikan dasar-dasar hubungan personal.

Pandangan Psikodinamika menegaskan pentingnya disiplin orangtua, sedang   Pandangan Behavioristik menekankan pada imitasi, dan Pendekatan Kognitif pada perkembangan moral yang didasari oleh berpikir rasional. Padahal apabila ditelusuri sebenarnya semua faktor tersebut secara bersama-sama mempengaruhi terhadap perilaku seseorang. Gibbs (1985) memberikan argumentasinya bahwa saat ini mengenai perkembangan moral, para ahli teori sosial lebih menekankan secara komprehensip dari semua pandangan yang ada  daripada memperbandingkannya.

Para ahli telah sepakat terdapat 3 proses yang memberikan sumbangan untuk memiliki pemikiran dan sikap yang sama mengenai internalisasi nilai siswayakni: (1) anak-anak menjadi sadar bahwa keputusan-keputusan eksternal dan realitas sebagai usaha untuk mengurangi terhadap penilaian-penilaian yang negatif, (2) anak-anak berkembang perspektif sosialnya bahwa empati akan memberikan mereka menjadi sadar terhadap akibat-akibat pada perilaku mereka kepada orang lain, (3) menggunakan ketrampilan-ketrampilan kognitif yang sedang berkembang secara aktif untuk proses-proses moral yang sesuai dengan informasi (Hoffman, 1974). Jadi perkembangan moral merupakan hasil interaksi yang komplek dari nilai-nilai  dan perilaku orangtua, pengalaman-pengalaman, perkembangan kognitif, aktivitas proses berpikir dan faktor-faktor lingkungan.

Lawrence Kohlberg seorang penggagas teori moral mengembangkan konsep dilemma moral,  yaitu situasi hipotetis dimana nilai-nilai saling bertentangan. Kohlberg menunjukkan adanya sebelas hal-hal yang berkaitan dengan moral yang saling bertentangan dalam dilemma moral yakni: (1) hukuman, (2) hak milik, (3) afiliasi, (4) otoritas, (5) karakter, (6) hukum, (7) kontrak, (8) kebenaran, (9) kebebasan, (10) kehidupan dan (11) seks. Dilema moral yang paling terkenal dan telah diteliti adalah Dilema Heinz yang menampilkan suatu konflik antara hak milik dan kehidupan :

Di Eropa terdapat seorang wanita yang sakit keras dan mendekati ajal dikarenakan penyakit kanker yang menyerang wanita tersebut. Terdapat satu obat yang menurut para dokter obat tersebut kemungkinan besar akan mampu menyelamatkan jiwa dari wanita penderita kanker. Obat tersebut semacam radium yang baru ditemukan oleh seorang ahli obat di kota yang sama yang ternyata harga obat tersebut amat mahal dalam pembuatannya sehingga sang ahli obat tersebut menghargainya 10 kali lipat dari beaya pembuatan obat. Dalam pembuatan obat ini ahli obat telah mengeluarkan beaya sebasar 200 dolar sehingga ia meminta ganti 2000 dolar untuk obat hasil temuannya. Heinz sang suami dari wanita yang sakit ini pergi ke setiap orang yang dia kenali untuk meminjam uang guna membeli obat, akan tetapi dari usahanya meminjam kepada semua orang  hanya mampu dia kumpulkan 1000 dolar yang merupakan separuh dari beaya yang harus dikeluarkan untuk mengganti obat. Sang suami mendatangi ahli obat dan mengatakan bahwa istrinya sedang sakit keras dan sekarat untuk itu dia meminta kepada ahli obat agar menghargai obatnya lebih murah atau mengijinkannya untuk membayar kekurangannya di kemudia hari. Tetapi si ahli obat ternyata mengatakan , “tidak, aku telah menemukan obat ini, dan aku akan mendapatkan uang yang lebih banyak dari yang kau miliki”. Melihat keadaan ini akhirnya Heinz putus asa dan mencuri obat tersebut dari toko ahli obat untuk istrinya (Porter, 1972).
Untuk menentukan tingkat penalaran moral subyek diminta untuk menjelaskan mengapa Heinz harus atau tidak harus mencuri obat tersebut, mengapa tindakan mencuri obat itu benar atau salah, apakah itu merupakan atau tidak merupakan tugas sang suami untuk mencuri bagi istrinya dan mengapa serta apakah si ahli dan pemilik obat berhak atau tidak berhak untuk menarik bayaran. Alasan-alasan tersebut kemudian diklasifikasikan ke dalam 6 tingkatan penalaran  moral.

Dilema Moral “Sharon” juga mengemuka dalam membahas masalah moral. Dilema moral Sharon diilustrasikan  Sharon harus memilih antara setia kepada teman dan menentang pemerintah termasuk hukum yang berlaku. Dalam kaitan ini ternyata bukanlah pilihan yang menentukan tingkat penilaian moral seseorang akan tetapi alasan yang diberikan terhadap pilihannya itulah yang menunjukkan kematangan moral seseorang.

Perkembangan penalaran moral seseorang itu berkembang melalui tahapan-tahapan sebagaimana yang digagas oleh Lawrence Kohlberg yaitu :

A.Tahap Moralitas Prakonvensional,  perilaku seseorang  tunduk pada kendali eksternal. Tahapan ini merupakan tahapan  khas bagi anak-anak muda dan anak-anak nakal yang dilukiskan sebagai tahapan pra-moral, sebab  keputusan yang diambil sebagian besar dibuat atas dasar kepentingan diri dan pertimbangan-pertimbangan material Tahapan ini meliputi  : (1) Orientasi Hukuman dan Ganjaran. Perilaku anak diorientasikan pada kepatuhan dan hukuman, ( 2) Orientasi Hedonistik.Perilaku didasari oleh gagasan mengenai timbal balik  atas pertukaran jasa.

B.Tahap Moralitas Konvensional, perbuatan seseorang disesuaikan dengan peraturan konvensional yang diorientasikan pada kelompok sosialnya. Tahapan ini  dimiliki oleh kebanyakan orang dewasa yang tersusun dalam 2 tahapan yaitu (3) Orientasi Anak Manis yakni seseorang berusaha mempertahankan harapan-harapan guna memperoleh persetujuan dari kelompoknya.  (4) Orientasi Otoritas, Hukum dan Kewajiban untuk mempertahankan tata tertib yang dianggap sebagai suatu nilai utama. Hidup seseorang dinilai atas dasar hukum sosial atau religius yang berada di lingkungannya.

C.Tahap Moralitas Pasca Konvensioanal,   perilaku seseorang dituntun prinsip-prinsip moralitas diri dan hati nurani. Tingkatan ini merupakan tahap perkembangan moral yang tinggi dan hanya sebagian saja orang dewasa yang mampu mencapai tahapan ini. Tingkatan  initersusun dalam 2 tahap yaitu : (5) Orientasi Kontrak Sosial yang menekankan  persamaan derajat dan kewajiban timbal balik  dalam suatu tatanan  demokratis,(6) Moralitas Prinsip Suara Hati yaitu perilaku seseorang itu  individual dan memiliki sifat komprehensip logis dan universalitas. Nilai tertinggi diberikan pada hidup manusia, persamaan derajat dan martabat.

Pembelajaran di sekolah umumnya mengajarkan materi-materi yang berorientasi pengembangan penalaran moral belum sampai kepada terwujudnya perilaku moral. Menurut  Rest untuk terjadinya perilaku moral diawali dengan (1) kepekaan moral, yaitu kemampuan seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, (2) penalaran moral, adalah kemampuan mempertimbangkan apa yang seharusnya dilakukan dengan menerapkan nilai moral, (3) keputusan moral, yaitu melakukan evaluasi tindakan-tindakan apa yang sesuai dengan nilai-nilai moral, (4) perilaku moral, yaitu mengimplementasikan tindakan moral yang telah diputuskan.

Derajat moralitas seseorang akan membimbing yang bersangkutan untuk memilih standar nilai  perilaku yang boleh dilakukan, dan perilaku yang dihindari. Perilaku seseorang yang dibimbing oleh moral akan memberikan kebahagiaan jangka panjang bagi kehidupan orang tersebut dan bagi masyarakat (Hazlitt, 2003).Seseorang yang memiliki kecerdasan moral tinggi, memiliki sifat : (1) lembut hati, (2) memikirkan orang lain, (3) bijaksana, (4) sopan, (5) murah hati melihat dunia sebagaimana orang lain melihatnya, (6) bertindak atas dasar pengetahuan dengan kelembutan hati (Mc.Intosch dalam Coles, 2000).

Pendidikan keagamaan menjadi niscaya diberikan kepada siswa dalam mengembangkan  komitmen siswa terhadap Tuhan maupun sesama manusia yang dimensinya meliputi : 

  1. Religious Belief, adalah bentuk keberagamaan individu  yang berisi pengharapan-pengharapan seseorang terhadap keteguhan pandangan teologis tertentu dan pengakuan kebenaran atas doktrin yang dipercayai. Dimensi ini menjelaskan sejauhmana tingkat keyakinan, kepercayaan terhadap agama yang dipilih dan dipeluknya. Misalnya tingkat keyakinan individu terhadap adanya, ke-esaan Tuhan, adanya nabi dan rasul sebagai utusan Tuhan, kebenaran kitab suci, adanya kematian, kehidupan sesudah kematian dan hari pembalasan, adanya surga dan neraka dan keyakinan-keyakinan keagamaan lainnya.
  2. Religious Practice, adalah bentuk keberagamaan individu yang dimanifestasikan dalam  perilaku ritual pemujaan, ketaatan dan hal-hal lain yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianut. Misalnya aktivitas kehadiran ke tempat ibadah untuk shalat, berdoa, membaca kitab suci, berdoa, puasa, ibadah haji dan bentuk-bentuk peribadatan ritual lainnya.
  3. Religious Feeling, adalah bentuk keberagamaan individu yang diwujudkan dalam  pengalaman keagamaan, perasaan, persepsi dan sensasi yang dialami seseorang berkaitan dengan Tuhan. Misalnya perasaan dekat dengan Tuhan saat sakit, merasa melihat atau dilihat Tuhan saat mendirikan shalat, merasa doanya didengar dan akan dikabulkan Tuhan, dan perasaan-perasaan lain yang berhubungan dengan keberadaan Tuhan dalam hidupnya.
  4. Religious Knowledge, adalah bentuk keberagamaan individu yang berisi pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, kitab suci dan hukum-hukum, aturan, ajaran mengenai sesuatu yang berhubungan dengan keagamaan. Misalnya ilmu, pengetahuan, hukum, aturan, tata cara shalat, hajji, zakat, berdagang, menikah dan hal-hal lain yang telah ditetapkan oleh agama yang dipilih.
  5. Religious Effect, adalah bentuk keberagamaan individu yang  menunjukkan ukuran perilaku seseorang tentang motivasi dan konsekwensi dari akibat keyakinan terhadap agama dalam kaitan hubungan diri dengan sesama. Dimensi ini mengukur sejauhmana pengikut agama itu berbuat kebaikan diri bagi orang lain, misalnya adanya kesediaan menolong, berbagi, menghargai dan mensejahteraan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Glock dan Stark dalam Shaver dan Robinson, 1975).

Fowler (1996) seorang penggagas Faith Development Theory mengajukan konsep tahapan perkembangan religiusitas seseorang sebagai berikut : 

  • Intuitive Projective Faith (usia 3 – 7 tahun) perkembangan seseorang didominasi imajinasi, dunia pengalaman dibangun oleh kesan indrawi dan emosi yang menghasilkan gambaran intuitif. Anak mulai peka akan keberadaan dan keyakinan adanya  Tuhan sebagi titik awal religiusitas  melalui apa yang dilihat dan dilakukan oleh orang dewasa. 
  • Mythical Literal Faith (usia 7 – 12 tahun) muncul kemampuan logis-kongkrit dalam memahami kejadian tetapi belum mampu yang abstrak, sehingga kebenaran didasarkan pertukaran yang adil. 
  • Synthetic Conventional Faith (usia 12– 20 tahun) berkembang logika formal, religiusitas masih dipengaruhi orang lain yang berakibat benar-salah dalam religi tergantung apakah perilaku religi itu merugikan orang lain atau tidak.
  • Individuative Reflective Faith (20 tahun ke atas) ditandai adanya tanggung jawab internal terhadap keyakinan religi. 
  • Conjuctive Faith (sekitar usia 35 tahun ke atas) munculnya kesadaran adanya perbedaan kepercayaan religi dengan orang lain. 
  • Undersalizing Faith (sekitar usia 45 tahun ke atas) sebagai tahap perkembangan religi tertinggi yang ditandai adanya kesadaran religi untuk menyatu dan bertanggung jawab akan keberlangsungan dan perdamaian ummat manusia.
seseorang

Religiusitas memiliki manfaat bagi tumbuhkembang kehidupan seorang siswa sebagaimana hasil penelitian Bjarnason, dkk (King dan Furrow, 2004) yaitu: memberikan kontribusi untuk perkembangan kesehatan remaja, berhubungan dengan akademik, kompetensi sosial dan nilai-nilai kebersamaan, memiliki rasa lebih bersih dalam memberikan makna pribadi, lebih prososial, meningggalkan perilaku bermasalah dan akan menghadirkan perilaku-perilaku sehat, lebih effektif dalam menanggulangi stress, mencegah penggunaan obat-obatan terlarang, menurunkan perilaku menyimpang seperti kebut-kebutan, alkoholic, seks pranikah, menurunkan perilaku kekerasan. Penelitian Gallup (King dan Furrow, 2004) menemukan sebanyak 95% remaja yang berusia 13 – 17 tahun mempercayai adanya Tuhan dan 42% remaja Amerika menyatakan seringkali sembahyang atas kemauan sendiri, 36% remaja berpartisipasi terhadap kelompok gerereja dan 32% remaja berpartisipasi terhadap proyek-proyek pelayanan keagamaan.

Hasil penelitian Wulandari dan Astrini (2013) terhadap mahasiswa di Jakarta yang mengikuti mata kuliah agama Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu menunjukkan bahwa pembelajaran agama dapat membentuk karakter berakhlak mulia (35%), bertoleran (31%), bergotong royong (17%), tangguh (5%), dinamis (5%), kompetitif (3%), patriotik (2%), dan karakter lain (2%). 
Kesadaran spiritual siswa perlu ditumbuhkembangkan, agar siswa-siswa memiliki derajat kecerdasan spiritual yang diharapkan. Seseorang yang memiliki kadar kecerdasan spiritual tinggi : (1) memiliki kebermaknaan hidup dalam kaitannya dengan diri sendiri, orang lain, alam, lingkungan dan kepada Tuhan, (2) menjunjung nilai-nilai kebenaran, kejujuran, cinta kasih, kebebasan, kedamaian, keadilan dan kebajikan (Zohar & Marshal, 2000; Howard, 2002). 

Pendidik (orangtua, guru dan tokoh masyarakat) diharapkan memberikan pendidikan agama, nilai dan moral kepada anak/siswa  melalui :

  1. Keteladanan dari orang dewasa (orangtua, guru, tokoh/pemimpin masyarakat dan pemuka agama). Keteladan akan menjadi model bagi anak, untuk selanjutnya perilaku model ini akan diinternalisasi anak-anak sebagai nilai moral bagi perkembangan konsep diri dan kepribadian anak. Para ahli psikologi melaporkan anak-anak yang secara konsisiten dipapari model-model orang dewasa yang murah hati dan penuh perhatian akan cenderung lebih peduli pada hak-hak dan perasaan orang lain (Woolfolk, 2009). Orangtua diharapkan memiliki kepribadian moral dan perilaku moral sebagai tokoh model bagi anak-anaknya. Hasil penelitian melaporkan bahwa anak-anak yang bermoral berasal dari orangtua yang memiliki karakteristik : (1) hangat, supportif dibandingkan menghukum, (2) menerapkan disiplin dengan cara persuasif, (3) memberi peluang anak mempelajari perspektif dan perasaan orang lain, (4) melibatkan anak-anak ikut mengambil keputusan dalam keluarga, (5) memberi informasi mengenai perilaku yang diharapkan dan disertai penjelasan, (6) mendorong anak menghayati moral yang bersifat internal daripada eksternal (Eisenberg dan Valiente dalam Santrock, 2007)
  2. Pendidikan moral di sekolah dapat diberikan melalui: (a) kurikulum tersembunyi, (b) pendidikan karakter, (c) klarifikasi nilai-nilai, (d) pendidikan moral kognitif, (e) pembelajaran pelayanan (Santrock, 2007).
  3. Pemerintah dan pihak-pihak terkait memberikan pengawasan dan kontrol terhadap peredaran informasi, hiburan, tontonan dan tayangan yang memiliki konotasi porno. Informasi dan tayangan porno dapat berakibat munculnya keinginan seseorang untuk meniru apa yang telah dilihatnya.
  4. Membumikan pendidikan keagamaaan kepada anak-anak. Qur’an telah menuntun tentang pendidikan anak, antara lain :
(a) Mengenalkan anak kepada  Allah dan tidak mempersekutukanNya  (“Hai anakku,  janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar”. QS. Luqman, 13).
(b) Mengajarkan anak berbuat baik kepada kedua orangtua (“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada  ibu bapaknya” QS. Luqman, 14). 
(c) Mendidik anak untuk bersyukur kepada Allah dan kedua orangtua (“Bersyukurlah kepada-Ku (Allah) dan kepada  ibu bapakmu”. QS. Luqman, 14).
(d) Mendidik anak selalu mendirikan shalat, (“Hai anakku, dirikanlah sholat”. QS. Luqman, 14), 
(e) Mendidik anak berperilaku jujur, (“Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasnya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. QS Luqman,16), 
(f) Melatih anak berperilaku sabar dan rendah hati, (“dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu”,  QS Luqman, 17); (“ Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”,  QS Luqman, 18).
(g) Mendidik anak secara demokratis (Ibrahim berkata : “ hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah  apa pendapatmu! “. Ia menjawab: “hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah bapak akan mendapatiku termasuk  orang-orang yang sabar, QS Ash Shafaat, 102).

Siswa (anak) akan tumbuhkembang menjadi pribadi yang beragama, menjunjung nilai dan bermoral, apabila dididik oleh orang-orang yang memiliki komitmen, religius  dan bermoral membanggakan. Pesan moral yang diberikan kepada siswa atau anak oleh orang yang tidak memiliki kapasitas dan kepribadian moral yang baik/unggul akan sia-sia, karena the messenger, not message. Untuk itu titik awal memberikan pendidikan keagamaan, nilai dan  moral bagi siswa justru dimulai dari diri orang dewasa itu sendiri (orangtua, guru, tokoh masyarakat) sebagai model imitasi, model panutan. Semoga Bermanfaat Amin yrb ..


Daftar Rujukan
  1. Aquino, K; Reed.A. 2002. The Self-Importance of Moral Identity. Jurnal of Personality and Social Psychology. 83, 6, 1423-1440.
  2. Bee, H. 1994. Life Span Development. New York: Harper Collins College Publishers.
  3. Crapps,W.R. 1994. Perkembangan Kepribadian dan Keagamaan. (terjemahan). Yogyakarta: Kanisius.
  4. Fuhrmann,B.S. 1990. Adolescence, Adolescents. London: Scott, Foresman/Little, Brown Higher Education.
  5. Hurlock, E.B. 1978. Child Development. Mc Graw-Hill Inc.
  6. Kohlberg, L. 1980. Moral Development, Moral Education, and Kohlberg. (terjemahan). Yogyakarta: Kanisius.
  7. Narvaez,D; Getz, I; Thomas.J.S; Rest,R.J. 1999. Individual Moral Judgment and Cultural Ideologies. Jurnal Developmental Psychology, 35, 2, 478-488.
  8. Rest,J.R. 1988. Special Issue The Legacy of Lawerence Kohlberg. Journal Counseling and Values Arvic, 32,3.
  9. Santrock, J.W. (2004). Psikologi Pendidikan (terjemahan). Jakarta: Prenadamedia Group
Related Posts
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar